ARTI HUKUM SABAT

ARTI HUKUM SABAT

Sabtu, 3 September 2022



Lukas 6:1-5

Ketika para murid Yesus memetik bulit gandum dan memakannya pada hari Sabat, beberapa orang Farisi menegurnya, mengapa melanggar Hari Sabat?  “Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” (Luk 6:2)
Mengapa mereka mengatakan hal yang demikian arogan? Mereka merasa lebih baik dalam menafsirkan hukum Sabat. Namun penafsirannya salah karena mereka menafsirkan secara sempit, yaitu hanya melihat cara melaksanakan, namun meninggalkan isi dan tujuan dari Hukum Sabat. Isi dan tujuan hukum Sabat adalah Allah sendiri yang harus dihayati kehadiran-Nya yang penuh kasih, sehingga memuliakan Allah sama dengan menghidupi Kasih Allah di dalam hidup mereka. Dan kasih Allah sungguh tampak di dalam kehadiran Kristus yang telah mengampuni dan menebus dosa umat manusia. “Oleh karena itu di dalam Dia terpenuhi Hukum Sabat. Artinya jika seseorang percaya dan mengikuti cara hidup-Nya, maka ia melaksanakan hukum Sabat.  Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”(Luk 6:5).

Dengan demikian penghayatan Hukum Sabat tidak bisa dipisahkan dengan iman akan Allah yang Maha Kasih yang telah turun ke dunia di dalam diri Yesus Kristus. “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”(Yoh 20:31). Persoalannya apakah setiap orang mau terbuka, menerima dan percaya kepada Kristus? Jika mereka tidak percaya, maka mereka akan menolak Kristus dan semua kebenaran iman yang telah dicatat di dalam Kitab Suci. “Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.”(Mat 22:15).

Oleh karena itu, setiap orang dengan kebebasannya perlu memutuskan dan memilih siapakah Tuhan bagi hidupnya, untuk keselamatan kekal. Hukum Sabat ditulis untuk menyadarkan bahwa diatas segala-galanya, ada pemilik dan penyelenggara kehidupan yang tidak bisa dilupakan, ialah Allah Bapa yang Maha Baik, yang telah mengutus Anak-Nya ke dunia menjadi penyelamat dan mengutus Roh Kudus untuk menyertai dan menuntun manusia di jalan yang benar. “Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.”(2 Yoh 1:3). Oleh karena itu manusia tidak punya hak untuk mengatakan penentu segala-galanya.

Didik, CM 

Comments are closed.
Translate »