MENJADI PEMBELAJAR KEHIDUPAN
Fr. Ignatius Adam Suncoko
Kamis 17 Oktober 2024
Hari Biasa, Pekan Biasa XXVIII
PW. St. Ignasius dari Antiokia, Uskup dan Martir
Lukas 11: 47-54
Dalam Injil hari ini, Yesus melanjutkan kecamannya kepada orang-orang Farisi. Kisah Injil hari ini, sangat seru dan keras! Pada zaman Yesus, rupanya hukum diberikan oleh orang Farisi untuk memberikan beban yang sangat berat kepada orang-orang yang bersinggungan dengan mereka. Orang-orang Farisi tidak memiliki belas kasihan atau kepedulian terhadap orang-orang yang memikul beban ini. Yesus memperhatikan orang-orang yang setiap hari memikul beban hukum dan tuntutan yang berat ini. Orang-orang Farisi hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, dengan alasan hukum membuat banyak orang sengsara. Yesus terkejut melihat semua orang Farisi diharapkan dari orang-orang.
Sekarang, bisa dibayangkan seandainya menempatkan posisi kita sebagai orang Farisi. Ketika dikecam seperti yang Yesus katakan, kita pasti akan bereaksi tidak senang, marah dan ingin membalasnya! Orang-orang Farisi sangat tersinggung dengan kata-kata dan kutukan Yesus. Apalagi, Yesus memiliki pengaruh yang besar dengan banyak orang yang mendengar dan mengikuti pengajaranNya. Mereka muak dengan Yesus. Maka orang-orang Farisi mulai berkomplot melawan Yesus.
Hukum itu penting dan perlu. Namun, hukum dikembangkan untuk melindungi dan membantu orang, bukan untuk membuat penderitaan. Yesus ingin, agar kita hidup dengan benar sesuai dengan teks dan konteks. Dalam aneka perkara, kita harus berhenti-diam sejenak untuk mempertimbangkan dengan serius setiap situasi. Kesiapsediaan untuk saling mengingatkan dan menasehati untuk sesuatu yang baik, kita membutuhkan kerendahan hati. Bukan sekedar emosi, kemarahan, kejengkelan melainkan tetap memiliki hati yang terbuka dengan segala hal yang baik. Hidup kita bukan sekedar memetik hasil, melainkan mau tekun dalam berproses. Kita harus siap menjadi pembelajar kehidupan, khususnya menjadi pembelajar yang tekun di jalan Allah. Semoga!
Emosi dan perasaan boleh marah
Tapi jangan kebablasan sakit hati
Jalan Tuhan, bukan jalan pemarah
Berdiamlah menata hati dengan teliti.