“Bertahan dalam Pengharapan Iman”
Rabu, 11 Desember 2024
Bacaan Injil Matius 18:12-24
Ada banyak alasan dan sebab mengapa seseorang merasakan gembira, bahagia, lega, atau puas. Ada yang merasakan gembira ketika apa yang menjadi kerinduan dan angan-angannya tercapai; ada pula yang merasakan lega ketika persoalan yang dihadapi mendapat solusi dan jalan keluarnya; ada pula barangkali yang mengalami pengalaman gembira karena jabatan, pekerjaan, dan banyak hal lainnya. Namun, ada alasan lain yang bisa membawa seseorang pada pengalaman sukacita, bukan karena alasan manusiawi dan duniawi, tetapi alasan rohani dan batiniah. Apa saja itu? Kegembiraan, kebahagiaan, atau pun kelegaan ketika melihat diri sendiri bertobat, ketika melihat orang yang kita kasihi bertobat, ketika merasakan kembali orang yang dulu bermusuhan dengan kita menjadi teman akrab, kelegaan ketika aku dan dirimu mampu memaafkan dan mengampuni mereka yang pernah menyakiti dan melukai hati kita. Kelegaan dan sukacita karena rahmat kerahiman Allah, rahmat pengampunan, rahmat kesadaran untuk kembali menemukan hidup yang bermakna dan berkenan di hadapan Allah.
Apa yang menjadi pesan indah Injil hari ini memberikan satu perumpaan dan penegasan kegembiraan seorang gembala yang menemukan kembali seekor domba yang tersesat dan terlepas dari kawanan. “Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan, lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang sembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.” (Ayat 12-13). Demi seekor domba yang tersesat seorang gembala rela dan memilih meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang lain untuk mencari seekor yang terpisah dari kawanan. Sebuah perumpaan yang Tuhan Yesus berikan untuk memberikan penegasan betapa berharga dan berartinya seekor domba tersebut, sekaligus betapa murah hatinya dan pedulinya Tuhan Yesus sebagai Sang Gembala Agung memperhatikan saya dan Anda, serta saudara-saudari kita yang sedang mengalami ketersesatan dalam hidup dan imannya.
Saudara dan saudari yang terkasih, saya dan Anda semua harus berani dengan jujur mengakui bahwa kerapkali kita sendirilah yang dengan sengaja memilih keluar dari kawanan atau komunitas dengan berbagai alasan. Bisa saja karena alasan kesibukan, pekerjaan, keluarga, malas, dan lain sebagainya. Namun, satu hal yang harus kita sadari adalah Tuhan Allah tidak pernah lelah untuk mencari kita dan membawa kita untuk kembali pulang dan bersatu dengan kawanan. Kita memang adalah para pendosa, tetapi kita adalah para pendosa yang disayang, diperhatikan, dijaga, dan dijaga oleh Allah. Allah tidak ingin kita terlepas dari kawanan. Allah senantiasa merindukan kita dapat berdoa, memuji, dan memuliakan Allah bersama-sama dalam satu komunitas persekutuan.(RD Daniel Aji Kurniawan)