“Bertumbuh dalam Kelemahlembutan dan Kerendahan Hati”

“Bertumbuh dalam Kelemahlembutan dan Kerendahan Hati”

Rabu, 11 Desember 2024

Bacaan Injil Matius 18:28-30

(Ralat untuk renungan terkirim hari ini)

      Ada banyak alasan dan sebab mengapa seseorang merasakan gembira, bahagia, lega, atau puas. Ada yang merasakan gembira ketika apa yang menjadi kerinduan dan angan-angannya tercapai; ada pula yang merasakan lega ketika persoalan yang dihadapi mendapat solusi dan jalan keluarnya; ada pula barangkali yang mengalami pengalaman gembira karena jabatan, pekerjaan, dan banyak hal lainnya. Namun, ada alasan lain yang bisa membawa seseorang pada pengalaman sukacita, bukan karena alasan manusiawi dan duniawi, tetapi alasan rohani dan batiniah. Apa saja itu? Kegembiraan, kebahagiaan, atau pun kelegaan ketika melihat diri sendiri bertobat, ketika melihat orang yang kita kasihi bertobat, ketika merasakan kembali orang yang dulu bermusuhan dengan kita menjadi teman akrab, kelegaan ketika aku dan dirimu mampu memaafkan dan mengampuni mereka yang pernah menyakiti dan melukai hati kita. Kelegaan dan sukacita karena rahmat kerahiman Allah, rahmat pengampunan, rahmat kesadaran untuk kembali menemukan hidup yang bermakna dan berkenan di hadapan Allah. Sukacita karena Allah begitu lemah lembut dan rendah hati selalu menerima setiap kegelisahan, ketakutan, kecemasan, bahkan kedukaan yang kita alami sebagai manusia lemah dan berdosa.

      Apa yang dinyatakan Tuhan Yesus hari ini dalam Injilnya: “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.” (Ayat 28-30). Ungkapan hati Yesus ini sungguh menunjukkan bahwa Dia tahu apa yang paling dirindukan dan dibutuhkan oleh setiap pribadi yaitu ketenangan dan kelegaan hati. Menjalani hidup dengan tenang dan damai di tengah segala persoalan dan tuntutan hidup adalah situasi yang dirindukan oleh setiap orang. Namun, ada konsekuensi yang perlu disadari dan dihidupi oleh setiap orang beriman yaitu sikap lemah lembut dan rendah hati, bukan sebaliknya keras kepala dan tinggi hati. Ketika dunia membawa manusia pada kecenderungan sikap keras hati dan tinggi hati, Yesus mengundang kita untuk berani mengambil sikap lemah lembut dan terbuka pada bimbingan Roh Kudus dengan kerendahan hati.

      Saudara dan saudari yang terkasih, saya dan Anda semua harus berani dengan jujur mengakui bahwa kerapkali kita mengalami aneka macam kelelahan dengan berbagai alasan. Bisa saja karena alasan kesibukan, pekerjaan, keluarga, relasi, dan lain sebagainya. Namun, satu hal yang harus kita sadari adalah Tuhan Allah tidak pernah lelah untuk menguatkan, meneguhkan, dan menyelamatkan kita. Kita memang adalah para pendosa, tetapi kita adalah para pendosa yang disayang, diperhatikan, dijaga, dan dijaga oleh Allah. Marilah kita untuk tetap setiap berharap dan datang kepada Dia kapan pun dan di mana pun. (RD Daniel Aji Kurniawan)

Comments are closed.
Translate »