Kecaplah Betapa Sedapnya Tuhan!

Kecaplah Betapa Sedapnya Tuhan!

komuniYakobus 1: 12-18; Markus 8: 14-21

“Hm….betapa nikmatnya, yummy dan uenaak!” kata seorang teman seusai makan di Japanese Buffet, Concord. Seolah dia sungguh puas makan walau harus berkendaraan dari Berkeley ke tempat ini. Bahkan di Sabtu sore, orang mengantri panjang demi makan di restoran siap saji ini. “nikmat dan puas” itulah yang mendorong perut mencari makanan enak, membuat orang ingin selalu  kembali karena mendapatkan kepuasan.

Dalam audiensi Rabu lalu (Jan 12, 2014), Bapa Suci Fransiscus mengingatkan kita, “Ekaristi hendaknya menjadi tempat kita menemukan kedekatan dan pertemuan dengan Tuhan yang paling mendalam.” Tak ada tempat lain selain dalam Sakrament Gereja, terumat Ekaristi, kita merasakan kehadiran Allah yang amat sangat! Membuat kita selalu ingin datang lagi dalam perjamuan suci ini.

Namun sering kali kita sibuk pada hal-hal remeh yang mengalihkan pusat kita pada Ekaristi. Orang masih melihat, “Romo Siapa yang misa? Apa kotbahnya, membosankan atau lucu? Kor baik atau buruk? Apa ada teman yang aku kenal dalam misa?” Dan masih banyak hal lain yang membuat makna terdalam Ekaristi menjadi kabur dari pusat perhatian.

Para murid Yesus juga tidak memahami makna mukjijat penggandaan roti. Sampai Yesus berkata, “betapa kerasnya hatimu!” Mereka tak mengerti bahwa dalam mukjijat itu semua orang menjadi kenyang, dan masih sisa 12 keranjang. Penggandaan roti untuk 5000 orang menjadi tanda Yesus yang memberikan dirinya sendiri pada kita seperti dalam Ekaristi.

Semoga setiap petugas misa, Romo, Lektor, Koor mau berusaha menyiapkan diri dengan baik sehingga membantu umat menemukan Allah dalam Ekaristi, dan tidak menjadi batu sandungan .  Hingga mereka bisa berkata, “kecaplah betapa sedapnya Tuhan!”seusai misa, bukan hanya sesudah makan di Buffet!

Comments are closed.
Translate »