Dengan Hati yang Berkobar
Bacaan I: Kisah Para Rasul 3:1-10
Bacaan Injil: Lukas 24:13-35
Henry J.M Nouwen menulis buku yang sangat bagus berjudul “With Burning Heart”. Di dalamnya, ia merenungkan Ekaristi dengan kerangka kisah penampakan Yesus yang bangkit pada dua murid di jalan ke Emanus. Dengan indah ditariknya kesejajaran dinamika kisah Paskah itu dengan dinamika dalam Ekaristi, dan mengajak kita menemukan kesejajaran dalam dinamika hidup kita pula.
Dua orang murid yang berjalan bersama dirundung duka, kebingungan, kehilangan arah. Mereka merasa lemah, letih, lesu, bimbang, ragu. Dalam suasana itu kita memulai Ekaristi, menyadari kerapuhan kita dan berseru: Tuhan, kasihanilah kami. Kehancuran hati acap kali perlu terjadi agar rahmat dapat merasuk lebih dalam, seperti tanah kering yang keras perlu diaduk, dipecahkan, agar dapat menyerap air yang dicurahkan padanya, dan membuat biji yang ditanam dalamnya tumbuh subur dan berbuah.
Dalam suasana murung meratapi kehilangan sosok pemimpin ideal secara tragis dan memilukan, kedua murid tak mampu mengenali kehadiran Sang Guru yang mereka perbincangkan. Kehadiran orang asing yang mengajar mereka memahami kejadian2 yang lalu lewat terang tafsir kitab suci secara baru, diam-diam menata kembali hati mereka. Sungguh mereka mengalami, Sabda Tuhan adalah sumber penghiburan, kekuatan dan harapan hidup. Itulah pengalaman kita memasuki liturgi sabda. Mendengar sabda Tuhan dan penjelasannya dalam homili, dapat sungguh menata dan menerangi hati serta budi, memberi bekal pula dalam perjalanan hidup kita.
Saat hati disinari terang harapan dan sukacita baru, kedua murid tidak saja menemukan kegembiraan tiba di rumah dalam artian dinding, pintu, jendela dan atap, tetapi juga rumah dimana mereka bisa menjamu tamu dan berbincang seru dengan orang asing yang berubahmenjadi teman yang mengasyikkan, teman yang membuat hati berkobar, teman yang dipercaya untuk berbagi suka dan duka. Saat kita menyatakan “Aku percaya” usai bacaan dan kotbah, kita mengundang Yesus ke rumah kita dan mempercayakan diri kita untuk memasuki jalanNya.
Saat Yesus memasuki rumah kedua murid itu, rumah itu menjadi rumahNya. Kini Dia yang mengundang mereka memasuki ruang batinNya. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka (Luk 24:30).” Hal yang biasa bahwa roti diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagi. Tapi kedua murid terbawa pada peristiwa dimana Sang Guru bersabda: Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku (Luk 22:19). Saat kita memasuki komuni, kita pun tahu, kita diajak memasuki ruang hidupNya, menjadi satu kawanan denganNya, menjadi seperti Dia, siap diambil, diberkati, dipecah dan dibagi2kan.
Hati yang berkobar bukanlah akhir cerita. Kepedihan yang sirna digulung sukacita meluap mengalami kehadiranNya juga bukan penutup. Komuni, persekutuan, bukan kesimpulan. Kedua murid langsung kembali ke Yesusalem, menjadi pewarta kabar kebangkitan, berbagi pengalaman pribadi, pengalaman ketersentuhan mereka. Ekaristi ditutup dengan tugas: Pergilah, engkau diutus. Epilog kisah perjumpaan denganNya adalah memasuki hidup Ekaristi, menebar dan menebar kabar gembira Injil. Siapkah kita?
