Damai

Damai

peace girl

Bacaan I : Kis 3: 11-26
Bacaan Injil : Luk 24: 35-48

Wajahnya ibu setengah baya itu murung dan keruh. Sambil memutar-mutar cangkir kopinya, dia berkata lirih: Romo, saya mendengar suara-suara yang berkata bahwa mereka akan mengambil anak saya. Suara-suara itu juga bilang saya ini bukan guru yang baik, tidak bisa mendidik anak, karenanya mereka akan mengambil anak saya. Suara-suara itu juga memutar rekaman, waktu saya bertengkar dengan suami saya. Memang kadang saya berselisih paham dengan suami saya sampai bantah-bantahan dengan suara keras dan tinggi. Saya tahu, itu bisa membuat anak saya yang semata wayang itu tertekan, tapi ya bagaimana yah… Pasti itu tetangga saya dulu, yang sudah pindah, yang merekam pertengkaran kami dan melapor pada yang berwajib. Tapi suami saya tidak mendengar suara itu, hanya saya. Sama sekali tidak ada orang lain yang mendengarnya. Lha apa saya ini sudah nggak waras, Romo? Saya takut dan bingung, tidak bisa tidur, cemas, ….

Saya terdiam. Saya sadar, saya tidak bisa berbuat banyak. Apa yang dibutuhkan Sang Ibu adalah pendampingan perawatan klinis, karena dia mengalami depresi berat. Dia juga membutuhkan seseorang yang sanggup menemaninya memasuki dunianya, dan turut menuntunnya keluar darinya secara lembut. Untunglah, ibu yang tak punya banyak kawan itu mendapatkannya dari seorang teman yang sabar mendengarkan, mendampingi, termasuk membantunya untuk segera mendapatkan perawatan psikiatri sebelum kesadarannya makin mengabur, setelah Sang Ibu sempat menelpon polisi yang segera datang karena dalam kepanikan ia melaporan bahwa anaknya akan diculik sore itu juga.

Menurut sebuah study WHO, rata-rata 1 dari 20 orang menderita depresi. Sementara Indonesia berada dalam skala ini, USA tercatat lebih tinggi, 1 dari 10 orang, dan Afganistan, dengan konflik dan perang yang berkepanjangan, lebih parah lagi, 1 dari 5 orang menderita depresi. Meskipun penyebab dan penanganan bermacam-macam, ada satu kenyataan yang mencuat: depresi meningkat dengan menurunnya kedamaian. Kedamaian yang kasat mata bebas dari konflik bersenjata, juga kedamaian yang lebih subtle seperti bebas dari trauma, rasa bersalah masa lalu, kecemasan akan masa depan, ketidakmampuan menerima diri, tipisnya rasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Menarik untuk mencatat bahwa menurut Lukas dan Yohanes, hal pertama yang dikatakan Yesus ketika Ia menampakkan diri pada para murid setelah bangkit adalah “Shalama (Aram)”, “Shalom (Ibrani), “Pax vobis ego sum (Yunani)”, “”Damai(Ku) besertamu!”. Lebih dari menyatakan “Jangan takut”, Yesus memberikan damai. Lebih dari sekedar bebas dari perang atau kegelisahan batin, Shalom merujuk pada kelengkapan, keutuhan, kesehatan, kesejahteraan, keselamatan, ketenangan, kesempurnaan, keselarasan, damai, baik jasmani maupun rohani, dalam relasi dengan Tuhan juga dengan sesama manusia.

Dalam Injil Lukas, Yesus membuka pikiran para murid hingga mereka memahami kitab suci. Mereka adalah saksi dari terpenuhinya nubuat para nabi tentang Mesiah yang menderita dan bangkit dari antara orang mati. Mereka adalah saksi yang mendapat tugas melanjutkan pewartaan tentang pertobatan, pengampunan dosa, dan kabar gembira. Mereka diutus melanjutkan karya penyembuhan luka jiwa karena dosa, dan memulihkan shalom. Sebagai pewaris iman para rasul, kita pun diutus untuk tugas yang sama. Semoga kita pun dimampukan untuk menyapa saudara-saudari yang membutuhkan: Damai Tuhan besertamu. Semoga setiap sapaan terutama pada saudara-saudari yang sedang tertekan oleh beban hidup di sekitar kita, membawa kasih Tuhan sendiri yang menyejukkan, yang menyembuhkan, yang mendamaikan.

Comments are closed.
Translate »