Chiaroscuro

Chiaroscuro

st.josephthecarpenterbygeorgesdelatour

Bacaan I : 1 Raja-raja 17:7-16
Bacaan Injil : Matius 5:13-16

Saat saya sedang menekuni studi teologi bertahun yang lalu, suatu saat saya kedatangan tamu, seorang imam Yesuit Indonesia yang sedang bertugas di Myanmar dan menghadiri pertemuan di Melbourne. Saudara seserikat yang menjalani formasi teologinya di Roma itu rupanya membawa “aura Roma” saat dia meminta saya mengantar melihat-lihat musium seni. Meski sudah beberapa tahun menetap di kota budaya Oz ini, saya belum pernah mengunjungi musium seni tersebut.

“Ardi, kamu tahu ada yang unik dalam lukisan ini?”, tanyanya saat kami memandang salah satu lukisan yang dipajang. “Hmm…. Saya ini nggak ngerti lukisan, “ jawab saya, jujur apa adanya. Dengan semangat dan mata berbinar-binar dia mulai menjelaskan.

“Hal paling mendasar, yang pertama-tama, dalam mengapresiasi sebuah lukisan adalah melihat adanya unsur terang dan gelap. Dalam bahasa Itali, disebut sebagai “Chiaroscuro”. Kamu perhatikan, hal itu sangat kuat dalam lukisan ini. Banyak lukisan klasik sungguh jelas memperlihatkan pentingnya hal ini. Dan bukankah itu juga menunjuk pada kebenaran iman? Kitab Kejadian diawali dengan kanvas kekacauan dan kegelapan. Lalu Tuhan berfirman, dan firman yang pertama tercatat adalah: Jadilah Terang (Kej 1:3). Hal itu diulangi lagi dalam Injil Yohanes. Hidup dikatikan dengan Terang, dan “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya” (Yoh 1:5). Terang datang, dan kehidupan pun jadi. Terang datang, dan kehidupan pun dipulihkan kembali.

Coba bayangkan kalau dalam lukisan ini tidak ada terang, nggak kelihatan apa-apa. Permainan cahaya dalam lukisan sering menjadi unsur utama untuk menunjukkan dinamika, gerak, hingga lukisan tidak kaku dan mati. Juga perhatikan bahwa terang itu dalam lukisan-lukisan bertema religius, sering digambarkan memancar dari sosok Yesus, atau malaikat, atau api, sementara sosok lain memantulkannya. Hal ini juga membawa pesan tentang panggilan kita, untuk memantulkan cahaya ilahi ke dunia. Kita bukan cahaya itu sendiri, tetapi dalam sebuah lukisan hidup kita, kita punya pilihan untuk memantulkan cahaya ilahi atau membiarkan diri redup ditelan kegelapan.”

Dalam Injil hari ini, melanjutkan pengajaran Sabda Bahagia, Yesus menjelaskan berkat awali kita: kamu adalah terang garam dunia, kamu adalah terang dunia. Namun rasa dan cahaya itu hanya punya makna manakala dibagikan. Bacaan pertama menjadi contoh, terang yang memancar dari tindakan kasih seorang janda yang memberikan air dan membuatkan roti dari simpanan terakhir tepung dan minyaknya untuk nabi Elia. Pengorbanannya membawa kehidupan untuk dia dan anaknya, karena mukjijat terjadi: tepung dalam tempayan tidak habis-habis dan minyak dalam buli-buli tidak berkurang.

Setiap kita dipanggil untuk memantulkan cahaya kasih Tuhan, yang memberi contoh kasih yang agung dalam sengsara dan wafat Kristus untuk kita. Setiap tindakan kasih, betapapun kecil dan sederhananya, akan membawa sentuhan Sang Terang pada yang menerimanya, dan kehidupanpun akan diperbaharui. Membawa terang dan menjadi garam dunia bukan perkara rumit, seperti dinyatakan dalam nasehat Bunda Teresa: “Jangan biarkan seseorang bertemu denganmu dan pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah pernyataan kebaikan hati Allah yang hidup: kebaikan di wajahmu, kebaikan di matamu, kebaikan dalam senyummu.” Biarlah terangmu bercahaya, dan dunia yang menyaksikannya memuliakan Bapamu di surga!

spreading light

Comments are closed.
Translate »