Jujur
Bacaan 1 : 1 Raja-raja 19: 16b, 19-21
Bacaan Injil : Matius 5:33-37
Ketika dihadapkan pada pengadilan agama, Yesus ditanya tanpa tedeng aling-aling: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terberkati?” Ia menjawab sama lugasnya: “Akulah Dia.” (Markus 14:61-62). Seraya mengoyak pakaiannya, Imam Besar pun menyatakan bahwa Yesus menghujat Allah. Karenanya Ia lalu dijatuhi hukuman mati. Karena Ia, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup, menyatakan kebenaran. Sebuah kebenaran yang terlalu sulit untuk mereka terima.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajar kita untuk bersikap jujur apa adanya. Kalau “Ya” katakan “Ya”, kalau “Tidak”, katakan “Tidak”. Lugas, yang menurut seorang teman adalah singkatan dari lugu dan tegas. Say what you mean, and mean what you say. Maka persoalan utama bukanlah soal “mengharamkan” bersumpah, melainkan bagaimana kita seyogyanya menjaga kebenaran, menjaga integritas kita, menjaga harkat martabat sebagai mahluk yang diciptakan secitra dengan Yang Maha Benar, Maha Baik, Maha Indah.
Kepercayaan satu sama lain adalah pelekat sebuah masyarakat. Kita percaya bis yang kita naiki akan dikendarai dengan hati-hati dan membawa kita sampai pada tujuan yang ditentukan. Kita percaya harga yang kita bayar untuk barang yang kita beli sesuai dengan kualitas dan dengan nilai keuntungan yang diambil penjual wajar adanya. Kita percaya orang tidak menaruh bahan-bahan yang berbahaya pada makanan yang kita makan di rumah makan. Suami percaya janji pernikahan diperjuangkan pula oleh istri dan sebaliknya pula. Anak-anak percaya orang tua pada dasarnya berusaha mencukupi kebutuahan mereka, menjaga, melindungi dan membimbing mereka, dan sebaliknya orang tua percaya anak-anak akan bertumbuh dengan tetap menjaga hormat dan kasih pada mereka juga saat anak-anak menjadi dewasa dan orang tua menjadi makin lemah dan kurang berdaya. Tanpa kepercayaan satu sama lain, kita menjadi paranoid, melihat sesama sebagai ancaman, senantiasa tegang, penuh curiga dan perhitungan. Tak ada ketulusan, tak ada kerelaan.
Kepercayaan mengandaikan kejujuran. Sekali lancung keujian, seumur hidup tak dipercaya, kata pepatah. Dalam masa persiapan Pemilu, penyadaran senada muncul dalam semangat: pilih dengan mempelajari dan mempertimbangkan rekam jejaknya! Citra bisa dipoles, tetapi karakter melekat dari apa yang biasa dilakukan sehari-hari. Apa yang sudah terbukti lebih penting daripada apa yang terjanji. Kejujuran karenanya bukanlah suatu peristiwa di suatu saat, melainkan sebuah keutamaan yang terus dilatihkan, terus dinyatakan, seperti dikatakan Aristoteles: kita belajar tentang keutamaan dengan melakukannya.
Kepercayaan mengandaikan kejujuran, dan kejujuran mengalir dari semangat menjunjung dan menjaga kebenaran. Menjadi tantangan manakala kebenaran itu sendiri tidak lagi bisa dibaca hitam putih. Paulus berkata: “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu” (1 Kor 13:11). Selain penghargaan akan kebenaran, cinta kasih pun juga menjadi ukuran kita dalam berinteraksi satu sama lain. Karena, kadang kita juga harus menjaga kebenaran dengan tidak menyatakan semua yang kita tahu. Berhadapan dengan kekuatan dan kekuasaan yang pada dasarnya secara moral tidak benar, misalnya, membuat bisa jadi lebih bijaksana dan benar untuk tidak menyatakan yang fakta yang benar.
Ah… menarik sekali untuk terus memperbincangkan keutamaan yang bangsa kita Indonesia masih banyak gulati, dengan ranking persepsi korupsi nomer 114 dari 177 negara menurut Transparency International saat ini. Namun cukup dulu di sini, dan selanjutnya terserah Anda (dan saya) untuk menjalani. Salam!
