Yesus Memanggil Bukan Orang Benar Tapi Orang Berdosa

Yesus Memanggil Bukan Orang Benar Tapi Orang Berdosa

The Calling of St. Matthew by Caravaggio
The Calling of St. Matthew by Caravaggio

Matius 9:9-13

Dalam salah satu wawancaranya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa semasa dia bersekolah di Roma dulu, dia sering mengunjungi gereja San Luigi dei Francesi karena begitu terkesan dengan lukisan karya Caravaggio ini yang menggambarkan Yesus memanggil Matius untuk menjadi rasulnya. Figur Yesus jelas terlihat di paling kanan, menunjuk pada Matius. Figur Matius masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan Matius adalah orang berjenggot yang menunjuk pada dirinya sendiri, seakan bertanya, “Apakah saya yang Tuhan maksud?” Tetapi ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa Matius adalah orang muda yang menunduk. Paus Fransiskus sendiri dalam perenungannya di depan lukisan ini juga berasumsi sesuai pendapat kedua.

Sikap tubuh Matius yang memeluk uangnya seakan-akan menunjukkan keraguannya untuk menjawab panggilan Yesus. Sebagai pemungut cukai, hidupnya tentu lebih terjamin dibanding berjalan-jalan dengan Yesus dari kota ke kota. Dia menunduk seperti pura-pura tidak melihat panggilan Yesus. Pria berjenggot di sebelahnya menunjuk ke Matius dengan ekspresi muka seperti tidak percaya. Sama seperti orang Farisi dalam bacaan hari ini yang bertanya pada murid Yesus kenapa seorang pemungut cukai penuh dosa seperti Matius bisa diajak mengikuti Yesus. Yesus menjawab bahwa ia datang bukan memanggil orang yang sudah merasa benar, tapi mereka yang berdosa. Dia tidak mengkehendaki korban sembahan tetapi belas kasihan. Paus Fransiskus sendiri dalam renungan-renungannya selalu menyebut pentingnya “mercy” atau belas kasihan. Ia bahkan berkata bahwa ketika dipilih menjadi Paus, dia merasa seperti Matius yang berdosa dan tidak layak. Tapi akhirnya dia percaya pada kerahiman atau belas kasihan Kristus yang tidak ada batasnya.

Siapakah kita? Apakah kita seperti orang Farisi yang merasa sudah “layak dan sepantasnya” untuk dipilih Tuhan menjadi pengikutNya? Ataukah kita seperti Matius, merasa tidak layak dan masih penuh dosa, tapi percaya bahwa kasih dan kerahiman Tuhan akan selalu menyertai kita dalam perjalanan mengikuti Kristus?

Comments are closed.
Translate ยป