Imam yang bahagia

Imam yang bahagia

 

 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”  Matthew 9:35-38

Sejak puluhan kasus pedofilia mengguncang Boston, Amerika Serikat (AS), tahun 2002, kehidupan para imam seolah ada di bawah mikroskop. Gerak-gerik dan tabiat mereka menjadi perbincangan pubik. Apakah yang salah dengan semua ini? Dan, bagaimana kita bisa memperbaiki? Para psikolog dan pemerhati kehidupan Gereja melontarkan pertanyaan dalam diskusi publik, ”Apakah imam kita bahagia dengan hidupnya?”

Menanggapi persoalan itu, Institute St Lukas untuk formasi lanjut para imam di Maryland, AS mengadakan studi lapangan tentang kehidupan psikologis dan spiritual para imam. Selama tahun 2009, sebanyak 2.482 imam Diosesan dan religius dari 23 keuskupan di Amerika Serikat berpartisipasi dalam survei tersebut.

Sekitar 8,7 % dari para imam mengakui bahwa mereka mendapat perlakuan kekerasan seksual saat berusia kurang dari 18 tahun. Mayoritas imam senior, imamat antara 20-40 tahun, mengalami trauma tersebut. Data itu meneguhkan penelitian Vanderbilt pada 1992 yang mengklaim, lebih dari 40 % pelaku kekerasan seksual adalah mereka yang pada masa kecil juga menjadi objek penindasan seksual. Kasus pelecehan seksual dan pedofilia paling banyak ditemukan pada medio 1950-1980 dan pelaku kasus itu adalah imam yang kini usia imamatnya sekitar 20-40 tahun.

Persoalan pelecehan seksual pada anak juga sudah diteliti secara komprehensif pada tahun 2004. Di wilayah Gereja Katolik Amerika Serikat terdapat 4% imam yang dituduh melakukan pelecehan seksual pada anak-anak. Sebenarnya angka 4% ini lebih kecil dibandingkan pelecehan seksual yang dilakukan para guru di sekolah yang mencapai 5%. Sedangkan di dalam Gereja Anglikan Australia, pelecehan seksual oleh para imam yang menikah berkisar antara 3% – 4,4%.

Data di atas meragukan tuduhan bahwa selibat menjadi penyebab utama pedofilia. Persoalan pelecehan seksual ternyata tak hanya ada di kalangan orang selibat. Di antara para imam Anglikan yang menikah dan para guru sekolah, persoalan pelecehan seksual lebih besar. Jadi, selibat bukan menjadi biang kasus pedofilia.

Masalah kepribadian lain seperti stres, kesepian, dan depresi karena terlalu banyak kerja juga menghantui para imam. Sekitar 49% dari para imam (1.219 orang) mengaku pernah berkonsultasi pada psikolog. Pengakuan ini sebagian besar dari imam muda. Mereka berasal dari keluarga broken home dan tak ada relasi yang harmonis dalam keluarga sejak kecil.

Di samping itu, 83 % imam tetap merasakan bahagia. Kegembiraan imamat bersumber pada apa yang ada di dalam dan mewarnai hidup imamat, bukan yang diperoleh dari luar hidup imamat. Berdasarkan pandangan ini, ada empat hal utama yang berkontribusi pada kebahagiaan hidup imamat.

Pertama, relasi yang subur dengan Allah. Perasaan dicintai Allah, berterima kasih atas anugerah imamat, serta perasaan dekat dengan Allah menjadi sumber utama kebahagian hidup panggilan.Kedua, relasi yang baik dengan uskup dan rekan imam. Kedekatan dengan teman imam membangun kedalaman hidup batin dan membantu mengatasi rasa kesendirian. Relasi yang baik dengan uskup, bisa bekerjasama, dimengerti, didengarkan, dan perasaan dimiliki keuskupan, berkontribusi besar dalam membangun dan berkarya pastoral. Ketiga, cara pandang terhadap hidup selibat. Ketika selibat dilihat sebagai rahmat, bukan beban, dan konsekuensi gerejani dari tahbisan, kegembiraan akan bertumbuh. Keyakinan bahwa Allah memanggil dan memberi rahmat selibat akan memampukan sang terpanggil menjalani imamat dengan ringan. Dan, keempat, imam yang bahagia adalah imam yang mampu membangun relasi sosial yang sehat dan mendukung secara emosional, spiritual, dan sosial.

Data studi lapangan ini amat berguna bagi para uskup, imam, dan awam yang terlibat dalam pembinaan para imam. Mereka harus menyiapkan calon imam dan mendampingi para imam agar hidup kepribadian dan spiritualnya terolah. Kalau para imam bahagia, kegembiraan imamat mereka menjadi sumber rahmat bagi umat yang ditemui.

Artikel saya ini sudah dimuat di Majalah Hidup Katolik, 12 Feb 2012 dengan judul “Imam yang bahagia.”

Comments are closed.
Translate »