Hamba yang menderita

Hamba yang menderita

 

Kutipan dari Yesaya menggambarkan bagaimana Allah yang agung dan mulia menerima kondisi hidup manusia yang rapuh dan dalam kesetiaan dan kelemahlembutan seorang hamba menderita bagi keselamatan manusia (Mt 12:14-21).

Di sini, penginjil Matius hendak membawa pembacanya ke dalam pengenalan yang benar bahwa Allah yang mereka imani adalah Allah yang maha pengampun dan penuh kasih. Ia berani mengambil jalan hidup manusia yang lemah, menderita bersama mereka, dan bahkan mati sebagai orang bersalah. Ia membiarkan diri-Nya merana, dan dalam kesendirian beban dosa manusia ditanggung-Nya. Ia merendahkan diri, menjadi satu di antara orang-orang yang sering menjadi sandaran kebencian orang-orang berkuasa. Tak ada perlawanan dari-Nya terhadap musuh yang mengincar. Sepatah kata pun tiada terdengar dari bibir-Nya. Ia menanggung nasib sebagai manusia yang terdindih oleh dosa dan kematian. Allah seperti inilah yang menjadi tanda harapan dan kebangkitan bagi kaum kecil dan sederhana.

Panggilan kita sebagai orang beriman adalah untuk menghadirkan Kristus yang menjadikan diri-Nya hina dina di salib. Salib adalah lambang penolakan manusia yang tidak mengenal Allah. Hanya dengan mata iman nan jernih, rendah hati dan penuh kelembutan dapat membawa kita untuk masuk dalam kasih-Nya yang jauh melampau batas-batas pengertian manusia. Allah itu maha pengampun. Ia mengasihi kita hingga akhir, hingga kematian. Dengan menjadikan diri-Nya menderita, kita diberi contoh tentang ketaatan pada kehendak Bapa, agar keselamatan itu sungguh menjadi nyata, agar pertobatan terus menuntun kita kepada kemerdekaan dan kasih satu akan yang lain.

Ya, Allah Putra-Mu diutus untuk menebus kami dengan menjadi hamba yang turut merasakan penderitaan. Semoga kami selalu mau mengampuni sesama dan mengasihi menurut teladan Yesus sendiri. Amen!

Comments are closed.
Translate ยป