Bukan huruf (koreksi)

Bukan huruf (koreksi)

 

Injil hari ini bercerita tentang orang-orang farisi yang berusaha menjerat Yesus. Konteksnya, Yesus bersama para murid-Nya sedang berjalan-jalan pada hari Sabat. Saat itu karena lapar para murid memetik bulir-bulir gandum dan makan. Menurut aturan, Sabat itu hari Tuhan dan orang dilarang mengerjakan apapun, termasuk petik buah-buahan (Kel 20:9-10). Maka orang-orang farisi itu komplain: Lihat, murid-murid-Mu sedang melakukan apa yang tidak halal pada hari Sabat.

Yesus lalu membuka pikiran orang-orang farisi dengan memberi dua contoh. Pertama, kisah tentang Daud mendapatkan roti sajian di dalam Bait Suci dan diberikannya kepada para pengikutnya yang lapar padahal roti itu hanya boleh dimakan oleh para imam (Im 25:5-9). Kedua, kalau hari sabat itu hari istirahat kenapa imam bekerja pada hari itu dengan mengeluarkan roti-roti sajian dari tempat suci dan memakannya pada akhir pekan tanpa merasa dinodai (Im 24:8; Bil 28:9-10).

Setelah berargumen dengan mengemukakan dua alasan historis ini, Yesus memberikan sebuah alasan yang lebih fundamental: Sesuatu yang jauh lebih besar ada di sini. Yesus merujuk pada diri-Nya sendiri. Alasan ketiga ini tidak lagi bersifat literer historis tapi personal. Di sini, kita melihat dua hal: huruf hukum dan roh hukum. Yang pertama merujuk pada apa yang tertulis sebagai hukum (letter), yang berikutnya dinamakan dengan apa yang tidak tertulis oleh yang membuat hukum yaitu isi, roh hukum (spirit). Jika orang dengan iklas menuruti the spirit of the law, ia sedang melakukan apa yang para pembuat rujuk kendati tidak perlu punya rujukan langsung pada tulisan hukum.

Yesus memberi alasan yang lebih dalam lagi: bukan korban, melainkan belas kasih, mercy. Kata mercy ini ada dalam kitab Hosea 6:6 bahwa Allah, penulis hukum yang sesungguhnya, lebih berkenan pada hati yang setia, bukan sajian bakaran. Mercy memiliki arti-arti yang amat kaya: compassion, grace, charity, forgiveness, heartedness, ternderness, symphaty, generosity, liberatility. Paus kita sekarang, Francis, sering sekali memakai istilah-istilah di atas dengan rujukan pada hati manusia yang ikhlas bagi Tuhan dan di saat yang sama ada simpati kepada sesama, miserando.

Allah berkenan bagi yang ikhlas hatinya, bukan kepura-puraan. Bukan huruf, tapi Roh yang membawa hidup. Yesus menyelamatkan hukum sekaligus manusia yang menjalankannya: Putra Manusia adalah Tuan atas hari Sabat!

 

 

Comments are closed.
Translate ยป