Turun Gunung

Turun Gunung

Hari Raya Transfigurasi Tuhan Yesus

berk2

Matius 17:1-9

Sebelum saya meninggalkan Berkeley, saya sempat hiking ke atas Berkeley Hills. Tiba-tiba saya sampai pada suatu tempat yang memberi saya suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan. Saya memutuskan untuk berhenti dan mengagumi pemandangan ini, di mana terbentang Berkeley, Oakland, San Francisco, dan tentu saja Golden Gate Bridge yang terkenal itu. Saya juga mengabadikan pengalaman itu dengan kamera di cellphone saya, sebagai kenang-kenangan sebelum saya berpisah dari San Francisco Bay Area.

Pengalaman lain saya adalah ketika di Jakarta dulu. Jika keluarga saya mengajak untuk berpergian ke Puncak, bukan main senangnya. Lagu yang saya sering nyanyi dan dengarkan dari masa kecil menjadi begitu nyata dalam perjalanan melalui kebun teh yang asri, jalanan berkelok, di antara kabut tipis dan hawa yang sejuk.

Naik, naik, ke puncak gunung,
tinggi, tinggi sekali.
Kiri, kanan, kulihat saja,
banyak pohon cemara.

Saya tidak tahu persis keadaan gunung tempat Yesus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes pergi dalam bacaan hari ini. Tetapi yang para murid lihat pasti lebih dari keindahan pemandangan alam atau hawa yang sejuk. Mereka melihat Yesus yang dimuliakan, bersama para Nabi terbesar bangsa Israel. Para murid mengalami sesuatu yang sangat mengagumkan, sampai-sampai Petrus ingin mendirikan tenda dan menetap di sana. Dari atas gunung semua tampak sempurna. Pemandangan begitu indah dengan rumah-rumah yang kelihatan kecil. Di Puncak hawanya begitu sejuk dan segar. Pada saat Transfigurasi, Yesus begitu mulianya dan berbaju putih seperti salju. Siapa yang tidak mau tinggal di tempat seperti itu?

Meskipun demikian, saya pun harus kembali dengan keluarga ke Jakarta, kembali ke hiruk pikuk kota dan udara yang penuh polusi, kembali ke sekolah dan PR yang menumpuk. Para rasulpun diajak Yesus untuk kembali turun gunung, kembali menghadapi orang-orang Yahudi yang membenci mereka, kembali ke perjamuan di mana seorang dari mereka akan berkhianat, dan pada akhirnya kembali ke perjalanan Yesus yang mati disalibkan, telanjang dan penuh luka, jauh dari rupanya yang begitu mulia di atas gunung.

Tetapi inilah dasar iman kita, iman yang percaya akan besarnya cinta Tuhan pada kita sehingga dia mau “turun gunung” dan hidup, sengsara, dan wafat sama seperti kita. Beribu-ribu tahun lamanya Abraham, Musa, dan para nabi Israel harus naik ke gunung untuk bertemu Allah. Kali ini, sesuatu yang sama sekali lain terjadi. Tuhan tahu penderitaan kita karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan merasakannya.

Ada lagu terkenal dari Bette Midler berjudul “From A Distance”. Beberapa kata-katanya sebagai berikut:
From a distance, there is harmony.
From a distance, we all have enough.
From a distance, you look like my friend.
God is watching us from a distance.

Dari atas Berkeley Hills saya tidak bisa melihat orang-orang homeless yang memenuhi daerah Tenderloin di San Francisco. Dari sana saya tidak bisa melihat lebih dari 100 orang yang tertembak mati setiap tahunnya di Oakland. Begitu juga kalau Tuhan hanya melihat “from a distance”, saya tidak yakin dia bisa merasakan perihnya penderitaan manusia di dunia. Kita percaya pada Inkarnasi, pada sang Emmanuel (Tuhan beserta kita).

Seringkali Gereja atau kelompok kita menjadi seperti puncak gunung di mana kita bisa merasa aman, nyaman, dan tenteram. Tidak ada yang salah dengan ini, tetapi kita juga harus ingat untuk turun gunung. Dengan menerima tubuh Kristus dalam Ekaristi, kita dikuatkan untuk kembali ke tengah masyarakat, ke dalam suka duka para sesama kita, dan menjadi tubuh Kristus yang menyalurkan kasih dan pengampunanNya bagi dunia.

Comments are closed.
Translate ยป