Yang terluka yang menyembuhkan

Yang terluka yang menyembuhkan

Bacaan: Philemon 1:1-24

Sudahkan anda membaca surat Paulus kepada Philemon hari ini? belum…Ayo dibaca sekarang, ini surat Paulus yang paling pendek, hanya 1 bab saja. Kalau anda tak berniat membaca hari ini, tak akan ada lagi keinginan untuk membaca di hari esok….(8 menit kemudian)….nah tuh, hanya butuh waktu kurang dari 10 menit kan, untuk menyelesaikan satu surat Philemon!

Philemon sedang dalam keadaan terluka dan kecewa lantaran Onesimus, hambanya, mencuri dan melarikan diri ke Roma. Pengalaman luka bisa merasuki siapa saja. Kalau luka dan kecewa itu mendalam serta tak tersembuhkan akan merusak semua relasi, menghancurkan perkawinan, menceraikan ikatan persahabatan, juga kepercayaan. Walau kadang orang tak bermaksud melukai, namun kerap kita tetap merasa dikecewakan berlarut-larut, sampai membuat sisa pahit dalam hidup saja.

Kini didepannya muncul Onesimus yang meminta ampun sembari membawa surat dari Paulus untuk Philemon (baca renungan kemarin “Dilema Onesimus’). Nama ‘Onesimus’ berarti bermanfaat/berguna. Dalam suratnya, Paulus bermain dengan kata itu, “dulu dia (Onesimus) tak berguna bagimu, kini dia berguna untukku dan untukmu.” Paulus yakin kalau masa depan Onesimus akan cemerlang bila ditangai dengan baik. Namun masa depannya kini di tangan Philemon.

Sayangnya, tak ada kisah kelanjutkan bagaimana relasi Philemon-Onesimus berlangsung. Hanya saja, 30 tahun setelah surat Paulus kepada Philemon ditulis, Ignatius seorang penulis berkisah tentang seorang Uskup besar bernama Onesimus. Dia berkata kalau Onesimus inilah yang “dulu tidak berguna bagimu, kini dia berguna untukku dan untukmu.” Kata-kata yang persis sama ditulis Paulus pada Philemon.

Memang benar bahwa masa depan Onesimus lebih hebat dari tuannya Philemon. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hanya karena penerimaan Philemon yang mau mengampuni dan mempercayai dia lagi, membuka masa depan baru. Tanpa adanya pengampunan, tak ada masa depan!

Seorang yang terluka dan kecewa seperti Philemon, sebenarnya di dalam jiwanya tersimpan kekuatan untuk menyembuhkan diri dan sesama. Penyembuhan terjadi saat seseorang mengakui bahwa ia lemah dan terluka, serta mau menyembuhkan luka dengan mengampuni orang yang berbuat jahat padanya. Dia tidak membalas luka dengan melukai, tapi membalut luka dengan bilur-bilurnya.

The wounded healer adalah seseorang yang punya jiwa yang besar dan kekuatan untuk menyembuhkan kekecewaan dan kemarahan dengan bantuan rahmat Ilahi. Uskup Desmon Tutu berkata, “Forgiveness is bigger than hatred, because forgiveness leads us to a bright future, but hatred brings darkness and bitterness.”

(Judul ‘yang terluka yang  menyembuhkan diambil dari buku tulisan Henri Nouwen ‘The wounded healer).

Comments are closed.
Translate »