Dilema Onesimus

Dilema Onesimus

Philemon 1:7-20

Apa akibatnya jika seorang budak di dunia Romawi kuno melarikan diri sembari mencuri uang milik majikannya? Hukumannya akan sangat kejam bila budak ini tertangkap kembali. Ia akan dihukum cambuk berduri, ditato (dicap) permanen inisial pemilik atau tuannya, sehingga ketika ia melarikan diri lagi, akan ketahuan seumur hidup bila ia adalah budak. Hukuman paling kejam adalah dihukum mati, entah dilempar pada binatang buas atau diserahkan pada algojo untuk dihabisi nyawanya.

Adalah Philemon, seorang terpandang dalam komunitas Kristen awal di kota Kolose (Turki). Ia mengenal Paulus dan dibaptis menjadi pengikut Kristus setelah mendengar pengajaran Paulus. Philemon memiliki seorang budak bernama Onesimus. Sang budak melarikan diri sembari mencuri uang tuannya.

Onesimus bertualang hingga ke Roma dan menemui Paulus. Ia pun dibaptis menjadi Kristen setelah mendengar ajaran Paulus. Sebagai salah satu bentuk pertobatannya, Paulus menyarankan Onesimus kembali pada tuannya. Dia menjamin kalau Onesimus tak akan dihukum karena Paulus akan memberi surat kasih pada tuannya, Philemon yang sangat dikenal Paulus.

Haruskah Onesimus kembali pada tuannya? Apakah surat Paulus sungguh menjadi jaminannya? Akhirnya Onesimus kembali dari Roma ke Kolose dan menyerahkan surat Paulus pada Philemon. Amat indah isi suratnya. Paulus berkata kalau Philemon punya hak untuk menghukum budaknya. Namun dia berkata, “Supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri.”

Philemon sebagai pihak yang dirugikan tentulah memiliki kuasa untuk menghukum hambanya ini. Namun dia tidak melakukannya. Dia mengampuni budaknya. Bahkan dia tak meminta Paulus mengganti uang yang telah dicuri Onesimus. Dia tak menerapkan hukuman formal yang seharusnya diterima seorang budak sekaligus pencuri. Dia mengubah sikap dan cara memandang orang lain karena dia mengampuni dan memandang Onesimus sebagai seorang pengikut Kristus pula.

Rahmat pengampunan memberi orang kekuatan untuk memberi kesempatan baru bagi orang yang telah bersalah, melepaskan sakit hati yang membebani diri, serta memandang orang lain secara lebih positif. Karunia pengampunan dan penerimaan ini pula yang kita mohon agar diberikan Allah pada kita semua.

Bacalah surat Paulus kepada Philemon hari ini! Surat sangat pendek hanya 1 bab saja, begitu indah menyentuh kemanusiaan kita akan hubungan manusia yang bersalah dan yang merasa disalahi..semoga kita bisa  menjadi seperti Philemon.

Comments are closed.
Translate »