Never get married!

Never get married!

Bacaan Mat 1:24-25

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Amat mengejutkan ketika melihat kehidupan dunia modern menjauhkan orang dari keinginan untuk menikah dan membangun rumah tangga. Sensus USA tahun 2000 menyebut 1,2 juta orang hidup bersama tanpa ikatan perkawinan, dan tahun 2010 menjadi 2,8 juta orang. Kini lebih dari 4 juta perempuan di USA memilih membesarkan anak sendiri tanpa bantuan lelaki. Pastor paroki saya menyebut masyarakat ini mengarah pada kebebasan penuh individual tanpa ikatan komitment pada siapapun.

Banyak orang single parent menyebut kalau ikatan perkawinan adalah institusi tradisional, dan mereka merasa tidak bisa lagi “fit” dengan aturan itu. Orang tak mau lagi hidup dengan ikatan komitment yang lama terhadap pasangan dan tanggungjawab pada anak. Mereka memilih hidup bersama tanpa ikatan yang membelengu dan tak perlu komitmen panjang, sehingga bila tak cocok, tinggal berpisah saja.

Meski menghadapi tantangan yang besar, Gereja Katolik tetap meyakini bahwa ikatan keluarga adalah dasar dari kehidupan masyarakat. Keluarga adalah gereja domestik pertama bagi anak-anak. Ketika keluarga hidup dengan baik, masyarakat juga akan menjadi baik. Sebaliknya saat keluarga berantakan dan tanpa aturan, kehidupan sosial masyarakat akan buruk juga.

Ikatan suami-istri menjadi pertanda relasi yang mendalam antara Allah dan Gereja. Cinta pasangan menjadi fondasi kehidupan dan kelanjutan dari komitmen hidup perkawinan. Kita berdoa bagi orang-orang yang sungguh berjuang menjaga bahtera perkawinan mereka, jatuh bangun untuk setia dalam komitmen hidup, serta mereka yang sedang mengalami krisis perkawinan.

Kemauan Yosef untuk mengambil Maria menjadi isterinya terjadi karena daya Roh Kudus yang bekerja. Semoga keluarga Kudus Nazareth menguatkan hidup keluarga kita semua.

3 thoughts on “Never get married!

  1. Yth Romo Fr Antonius Galih Aryanto
    Saya ingin menanggapi tulisan Romo
    Saya kira sekarang di Indonesia banyak juga yg memilih hidup sendiri ( tdk nikah) seperti saya bertiga bersama kakak2 saya tdk menikah tapi saya mengasuh ponakan dan anak2 lainya, hal ini merupakan kepuasan sendiri bisa membesarkan sampai mereka lulus sarjana bekerja dan menikah. Ternyata jalan hidupku diikuti 3 ponakanku yg hidup tak menikah, krn mereka lebih mementingkan karier, seperti sy dulu. Setelah pensiun sy betul2 mengabdi pd keluarga krn selama kerja kurang perhatian terhadap rumah , dapur/ masak dan belanja. Ini merupakan kebahagian sendiri, hidup penuh kesibukan mulai bangun tidur, ke gereja ikut misa harian pagi, belanja, masak, online, didepan komputer, cari berita dan baca lubuk hati. Semoga Tuhan selalu memberi kedamaian.
    Teriam kasih Romo atas renungan yg baik sekali. GBU
    Ibu MTh Sri Untari

  2. Ibu Untari,
    Salut dengan putusan anda untuk memilih hidup tidak menikah sembari membesarkan ponakan.
    Saya setuju dengan pendapat ibu bahwa putusan tidak menikah memiliki berbagai faktor termasuk karier dan masa depan keluarga.
    Kami berdoa semoga semua usaha baik ibu dan saudara diberkati Allah di hari-hari menjelang Natal ini.

  3. Saya juga salut dengan pilihan bu Sri. Kalau saya sendiri, saya memang suka anak2 kecil (sejak dari muda), jd keinginan untuk menikah salah satunya krn ingin mempunyai anak dan untungnya kami menikah pada saat di Indo, jd belum terpengaruh budaya ‘being a single parent’ di Amerika sini. Suami saya malah punya pandangan yang lebih mendalam dan berangkat dari kepercayaannya untuk melakukan ‘sesuatu yang lebih untuk dia laporkan nanti ke hadapanNya bila saatnya tiba”. Sejak itu saya semakin menyelami dan mempercayai bahwa peranan sebagai ibu, bukan saja sebagai pemberi kasih kepada anak2, tp sebagai salah satu kesempatan baik yang Tuhan berikan untuk membesarkan, mendidik dan membantu mengarahkan hidup 2 orang lain (yang Tuhan tempatkan sebagai putra kami) selain hanya mengurus diri sendiri. Ternyata menggunakan kesempatan membesarkan ciptannNya yang lain bisa juga dilakukan dengan being a single. Bless your heart bu Sri Untari!

    Romo, makasih untuk mengulas tentang keluarga adalah gereja domestik pertama bagi anak-anak, terutama bagi keluarga yang tinggal di negara sekuler. That’s why I love being catholic!

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate ยป