Berserah

Bacaan : Lukas 1:18-22
Tiba-tiba seorang ibu mendekat saya sembari berkata, “Romo, saya tak bisa terima anak perempuan saya pacaran sama bule yang tak beragama.” “Kenapa?” tanya saja. ‘Dia sekarang tak mau ke gereja lagi, bahkan jarang mengunjungi kami. Setiap kali saya ajak omong, dia selalu berkata kalau ini pilihan dia, dan dia cinta dengan pacarnya. Aduh…bagaimana ini?” Sang ibu melanjutkan cerita tanpa memberi saya kesempatan berkomentar, “saya terus berdoa pada Tuhan agar dia putus dengan pacarnya. Tapi kok ndak putus-putus…sampai saya ndak bisa tidur memikirkan doa saya yang tak dijawab Tuhan! aduh..aduh Romo, saya pusing dan stress mikir anak satu ini! Saya harus berdoa apa lagi?”
“Kalau tak bisa memutus relasi mereka, kita ya perlu doa pasrah saja. Doakan saja agar dia bisa memilih yang terbaik” jawab saya. “Saya sudah berdoa pasrah, tapi kok hati ini tak bisa menerima kalau anak saya akan menikah dengan dia. Berat rasanya.” jawabnya terbata-bata.
Begitulah yang sering terjadi dalam hidup. Kita selalu bisa mengontrol dan menguasai keadaan, serta memutuskan apa saja yang kita inginkan. Keadaan menjadi berbeda saat ada hal yang tak bisa kita kendalikan. Kita memberontak dan ingin semua berjalan sesuai keinginan dan rencana kita. Ketika hal itu tak terjadi, kita menjadi stress, sakit hati, tak bisa tidur, dan sulit bersikap “legowo” atau berserah pada Allah.
Zakaria, sebagai seorang imam yang terpandang dalam kehidupannya selalu merasa bahwa segala bisa dia kontrol dan kuasai. Dia ingin segalanya jelas dan masuk akal, bisa dimengerti pikiran. Kala malaikat Gabriel mengabarkan kalau istrinya akan mengandung, Zakaria tak percaya karena itu diluar kuasa dan kontrol dia.
Gabriel berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.” ia menjadi bisu, agar terbiasa mendengar dengan hatinya, tidak mudah mengumbar omongan atau berargumen untuk menguasai orang lain dan keadaan.
Pasrah pada Allah itu digambarkan seperti kebisuan yang dalam, orang diajak diam mendengarkan suara Tuhan dalam hati, sembari mencoba mengerti bahwa banyak hal dalam kehidupan ini tidak dalam kontrol kita. Kadang kita harus bisa berpasrah dan menerima dengan ikhas. Itu yang membuat kita bisa hidup dengan ringan dan bebas.
One thought on “Berserah”
Kisah ibu itu hampir sama dgn kusah seorang ayah yang sangat mencintai anak gadisnya yang cantik dan pandai. Sejak kecil ayahnya selalu melarang berpacaran dengan sembarang orang. Pacarnya yang pertama hanya lulusan SMA, dibilang ngga berpendidikan, putus. Pacarnya kedua seorang bandar Casino,ganteng,dibilang penipu,putus. Pacarnya ketiga pemain bulutangkis.
Dibilang mana ada masa depan katanya. Akhirnya, si gadis lulus menjadi sarjana hukum tapi sulit cari pasangan yang cocok. Dan apa yang terjadi kemudian? Dia kawin dengan seorang ulama beragama Islam. Dunia berubah total bagi ayahnya. Ayahnya yang pendiam sedih sekali tetapi didalam stress nya ia mencari Tuhan dan menjadi Katholik pada umur 65 tahun. Ia pasrah pada keputusan anak gadisnya. Saya potong ceritanya sampai disini. Ayahnya meninggal pada umur 75 tahun, hanya 2 minggu setelah mencoba tinggal selama beberapa hari dengan keluarga anak gadisnya itu yang hidupnya menyedihkan sekali, dibandingkan dengan anak2 nya yang lain, semuanya sukses.
Comments are closed.