Mencintai Tuhan dan sesama menjadi dasar dimana kita membangun kehidupan kristiani

Mencintai Tuhan dan sesama menjadi dasar dimana kita membangun kehidupan kristiani

HARI JUMAT PEKAN III MASA PRAPASKAH
13 Maret, 2015

Hoseal 14:2-10
Markus 12:28-34

Saudara-saudariku terkasih,

Sudah lama saya tidak pernah mendengar pengumuman dari mimbar sebelum misa dimulai yang bunyinya sebagai berikut: “diminta umat untuk tidak meninggalkan gereja sebelum doa penutup, berkat dan perutusan.” Namun beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk berlibur ke kampung halaman, kembali saya mendengar pengumuman diatas…”agar umat tidak meninggalkan gereja setelah menerima Komuni Kudus.” Untuk sementara orang yang melakukan hal itu mungkin merasa beruntung keluar lebih cepat supaya tidak terperangkap dalam kemacetan keluar dari halaman gereja, tidak buang banyak waktu, tidak perlu antre dan akhirnya terlambat ke appointment yang sudah direncanakan untuk berakhir minggu. Pada dasarnya mereka tidak mau membuang banyak waktu…yang mungkin tidak lebih dari lima atau enam menit lagi.

Selama masa Prapaskah ini kita diberi kesempatan untuk merenungkan lagi segala sesuatu yang telah kita lakukan untuk bisa menjawab dan melakukan kehendak Allah. Apakah kita berdoa lebih banyak dari biasanya? Apakah kita cukup bermurah hati dengan waktu, bakat dan talenta yang Tuhan berikan kepada kita untuk orang yang berada disekitar kita, yang sungguh membutuhkan uluran tangan kita? Apakah saya hanya namanya saja sebagai orang Katolik/Kristen? Dengan kata lain: “Kalau anda didakwa karena menjadi Katolik/Kristen, beranikah anda mau memberi kesaksian tentang siapakah anda?” Kalau anda ditanya bukti apa yang dapat anda tunjukkan tentang kekatolikan/kekristenan anda…sudahkah anda mengikuti perintah Allah: untuk mencintai Tuhan dan sesama seperti anda mencintai diri sendiri?

Saudara-saudari terkasih,

Selama masa Puasa ini, kita masing-masing diberi kesempatan untuk meningkatkan semangat doa kita. Bukan saja karena diwajibkan. Yesus mengatakan bahwa kalau kita mencintai Tuhan Allah kita dengan segenap hati kita, dengan segenap budi dan dengan segenap tenaga kita. Cinta yang demikian harus pula kita teruskan dengan mencintai sesama kita. Tidak berarti hanya mereka yang tinggal dekat dengan kita, tetapi sesama yang membutuhkan perhatian dan cinta kita, mereka yang miskin, yang tua/para jompo yang membutuhkan pertolongan kita. Termasuk juga kesabaran mendampingi, melayani mereka yang sudah tidak berdaya itu, yang berada di rumah sakit, di rumah jompo; kesabaran kita ketika keluar dari parking lot setelah misa dan tidak menunjukkan egoisme kita. Memberikan senyuman kepada sesama yang kita jumpai, sangat mungkin orang itu lagi dalam kesusahan.

Ketika kita dapat melakukan semuanya itu dengan penuh kasih, kita telah memuliakan Allah, karena kita bisa melihat kehadiran Allah dalam diri sesama kita, “karena kita semua diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.” Mencintai Tuhan dan sesama, sungguh merupakan suatu response yang sangat berarti dalam memuji dan memuliakan Allah yang telah mengasihi kita karena kita semua adalah anak-anak Allah, putera dan puteri Allah. Amin.

Comments are closed.
Translate ยป