Allah menghendaki kasih setia, dan bukan korban sembelihan.
Hosea 6:1-6
Lukas 18:9-14
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berlibur ke rumah. Sebelumnya, saudara-saudari dan semua keluarga perlu diberitahu bahwa saya akan berlibur. Ketika saya memberitahu mereka bahwa saya akan berlibur, salah satu dari cucu-cucu yang paling cerewet nyeletuk bilang, “opa pater, bolehkah saya minta dibelikan baju sinderela?” Saya sendiri tidak punya bayangan samasekali baju sinderela yang dimaksud, karena memang saya tidak pernah mengikuti film Disney. Namun si kecil ini kelihatannya juga sangat licik, langsung ia bargain/tawar menawar dengan saya, “opa, saya janji, saya akan berhenti makan candy dan rajin bangun pagi untuk ke sekolah, kalau opa nanti belikan saya baju sinderela lengkap dengan mahkotanya, sepatu dan tongkatnya.” Tongkat? koq pakai tongkat segala? Ya, opa! Itu tongkat “akrakadabra”nya! Ia berjanji, karena selama ini Fabiola, demikian nama cucuku ini suka makan candy yang mengakibatkan giginya belum juga tumbuh dengan kata lain Fabiola ompong. Fabiola tahu bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan dengan menjanjikan sesuatu…
Apakah kita sebagai orang dewasa masih mempunyai sikap yang sama dalam hubungan kita dengan Tuhan? Kaum Farisi dalam bacaan injil hari ini mengumbar janji ataupun menyampaikan kepada Tuhan apa saja yang telah ia lakukan dalam hidupnya sambil membandingkan dirinya dengan orang lain. Bahwa ia tidak merampok, tidak berzinah, tidak berurusan dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi ia adalah seorang dermawan, selalu membayar pajak pada waktunya sesuai dengan pendapatannya. Tetapi dimata Tuhan sikap si Farisi ini sungguh tidak menyenangkan dan tidak membahagiakan Tuhan, karena sikap yang tidak rendah hati dan sangat judgemental. Ia membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Si Farisi berpikir bahwa Tuhan akan sangat memperhitungkan apa yang telah ia lakukan menurut hukum, Tuhan samasekali tidak mendengarkan apa yang si Farisi itu umbar-umbar apa yang ia lakukan tanpa melihat dan mempertimbangkan perbuatan kasih dan bermurah hati kepada orang lain dalam kesulitan, memberi kesan bahwa dialah yang paling suci, kudus. Saudara-saudari terkasih, pesan Yesus dalam bacaan injil hari ini menunjukkan bahwa Allah lebih mengutamakan sikap pertobatan hati dan pikiran seperti yang dilakukan oleh pemungut cukai.
Dalam bacaan pertama hari inipun, nabi Hosea mengatakan bahwa “Allah lebih mengutamakan dan menyukai kasih setia, dan bukan korban sembilahan.” Tuhan tahu, bahwa kadangkala kita merasa bahwa kita seperti domba yang tersesat, dan selalu mengharapkan dan berdoa agar bisa kembali ke jalan yang benar. Allah tidak menghendaki tawar menawar atau janji-janji hampa, tetapi cukup dengan sikap tobat dan mau kembali kepadaNya…dimana kita bisa merasakan ketentraman dalam pelukanNya, merasa kita disembuhkan, dan disegarkan. Dengan demikian kita akan selalu dicintai Tuhan.
Saudara-saudari terkasih,
Setelah lebih dari setengah perjalanan rohani kita dalam masa Prapaskah ini dan yang menjadi suatu kesempatan yang sangat ideal untuk bertobat kitapun diberi kesempatan untuk membaharui hidup kita. Dengan demikian kita akan dapat lebih mendekati harapan dan kehendak Allah. Oleh karena itu janganlah kita memuji diri sendiri apabila kita datang ke misa setiap hari, tetapi, semoga perayaan Ekaristi yang kita rayakan setiap hari dapat lebih membuat hati kita tentram dan melembutkan hati kita dan bisa menyentuh kedalaman hati dan jiwa kita. Lalu sesudah perayaan Ekaristi ini, kita menjadi lebih rendah hati dan lebih berbelaskasih seperti Tuhan telah berbelaskasih kepada kita. Inilah sikap pertobatan yang kita perlukan pada kesempatan yang sangat istimewa ini. Amin.