Biarkanlah hukum yang benar menjadi raja dalam hatimu

Dalam bacaan-bacaan hari ini ada dua kisah menarik yang menghadirkan dua tokoh perempuan. Perempuan pertama bernama Susana. Dikisahkan oleh Kitab Daniel pasal 13, perempuan ini disebut berparas cantik, terdidik dengan baik dalam keluarga, taat pada hukum Tuhan, dan beruntung dikaruniai anak-anak dari suami terpandang. Perempuan terhormat ini bernasib malang. Dua hakim yang dianggap tetua komunitas Yahudi menjeratnya dengan ancaman hukuman mati setelah perempuan ini menolak untuk melayani nafsu birahi mereka. Begitu kuatnya dakwaan palsu mereka sampai-sampai tak seorang pun mampu memberikan kesaksian terbalik untuk membebaskan perempuan tersebut. Kekuatan langit mendegarkan jerit orang tak bersalah. Allah pun turun tangan! Dengan bantuan Daniel, Allah menaruh kuasa kebijaksanaan dalam diri anak muda ini. Allah sendiri bertindak: dua hakim bejat itu dibuktikan memberi kesaksian palsu setelah dikonfrontasikan satu sama lain oleh Daniel dengan pertanyaan di bawah pohon apa mereka berzinah. Dengan menyebut dua pohon yang berbeda, keduanya menggali kubur bagi diri mereka sendiri. Massa mengambil batu dan melempar mereka sampai mati. Keadilan memenangkan orang tak bersalah dari para hakim palsu yang berlindung di balik dalil-dalil suci.
Perempuan kedua, dari Injil Yohanes pasal 8, tak disebutkan namanya secara jelas tapi dikatakan kedapatan sedang berbuat berzinah. Sekelompok pemuka Yahudi yang dikenal sebagai para farisi membawa perempuan ini kepada Yesus. Yesus dijebak dan ditekan untuk memberikan pendapat pribadi-Nya atas kasus ini. Kalau Yesus katakan Ya, artinya hukuman mati bagi perempuan itu, maka otoritas-Nya dipertanyakan dan runtuhlah seluruh ajaran-Nya tentang kasih dan pengampunan; kalau Yesus katakan Tidak! maka Ia akan dituduh blasphemy karena melawan taurat Musa. Yesus tidak memilih baik yang pertama maupun kedua. Yesus memilih menjadi diri-Nya sendiri. Namun dengan demikian Yesus semakin tertekan. Barangkali karena alasan ini Yesus memilih diam dan menulis di tanah. Tanda kebijaksanaan seorang guru. Yesus ingin mengajarkan sesuatu. Karena terus didesak, Yesus lalu melontarkan pertanyaan retoris: Siapa tidak punya dosa, dia yang pertama lempar batu atas perempuan ini! Pertanyaan ini adalah pukulan balik yang membuat lawan tak berkutik. Mata Yesus mampu menembusi jiwa para penjahat di balik pakaian kesucian. Para penjebak-Nya mundur satu per satu dari hadapan-Nya mulai dari yang paling senior. Tinggallah perempuan itu sendiri di depan Yesus.
***
Dalam masa pra-paskah ini kita berada dalam sebuah ret-ret mulia bersama seluruh gereja. Berdasarkan dua kisah di atas kita bisa bercermin diri dan belajar dari cara hidup Yesus sendiri. Yesus menawarkan sebuah cara hidup yang melampaui tawaran hukum taurat untuk menghukum mati pezinah. Tanpa membenarkan perbuatan dosa perempuan yang kedapatan berzinah, Yesus menawarkan lain, tindakan pengampunan. Yesus menawarkan mercy. Yesus berbelas kasih dan kasihan melihat kuasa dosa yang melilit orang-orang yang menderita berkelahi di antara mereka. Namun pada saat yang sama Yesus menunjukkan kuasa Allah yang mampu membebaskan orang dari belenggu kematian akibat dosa yang dilakukan. Yesus mendiskriminasi dosa tapi bukan orang yang menderita. Dosa itu kekuatan jahat yang sulit dilacak tanpa kekuatan iman. Akibat dosa itu mematikan. Melampaui tawaran jahat, Yesus mementingkan hidup. Tawaran keselamatan ini merupakan sebuah revolusi spiritual dalam tradisi taurat. Kematian tidak boleh menang, harus ditentang dan dilawan apapun harganya.
Kita sebagai orang Kristen yang memegang tradisi kekatolikan ditantang untuk mengapresiasi ketajaman, kekuatan kekudusan Allah yang mampu meluluhkan kebengisan hati manusia yang cenderung menghakimi dan bahkan suka mencabut nyawa orang. Kekudusan Allah ditawarkan kepada manusia. Tergantung manusia mau milih yang mana? Ikut tawaran Allah atau tawaran kematian yang sering muncul dari dalam diri sendiri. Ikut hukum Allah atau hukum yang diciptakan manusia? Semoga revolusi mercy yang menjadi semangat dasar gereja dewasa ini dibawa Paus Francis mampu merubah wajah dunia yang dihantui oleh terror, balas dendam, kebencian, darah dan air mata. Jangan membiarkan kematian menjadi raja. Tetapi hidup! Biarkanlah mercy itu mengalirkan dan membawa penyembuhan. Biarkanlah mercy yang benar dari Allah itu hidup. Kasih hendaklah selalu menang dalam hatimu: “Saya juga tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berdosa lagi mulai dari sekarang.”
Ilustrasi via http://eikonik.deviantart.com/art/Writing-in-the-Sand-44714901