Senin, 18 Mei 2015
Dalam buku Katekismus Gerja Katolik nomor 1606 disebutkan bahwa, “Tiap manusia mengalami yang jahat dalam lingkungannya dan dalam dirinya sendiri. …mereka selalu diancam oleh perselisihan, nafsu berkuasa, ketidaksetiaan, kecemburuan, dan konflik,”. Penderitaan dan kesusahan yang dialami manusia merupakan misteri, dalam arti kita tidak pernah akan mendapatkan suatu jawaban yang “memuaskan” hati kita terhadap pertanyaan, bagaimana mungkin manusia yang sudah ditebus oleh darah Kristus masih haris mengalami penderitaan, sakit dan beratnya mencari nafkah.
Kendati demikian kita melihat dan mengalami bahwa kita tetap bertahan, memang ada beberapa orang yang tidak mampu bertahan menghadapi penderitaan, walaupun sudah sangat tergoncang oleh konflik. “… bahwa kamu dicerai-beraikan, …”. Yang menjadi kekuatan kita unruk bertahan tidak lain dan tidak bukan adalah pertolongan rahmat, yang Allah berikan karena kerahimanNya yang tidak ada batasnya. Tanpa bantuan rahmat ini kita tidak mampu bertahan dalam kesetiaan iman kepada Kristus.
Ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan, baik karena kesalahan kita sendiri maupun karena orang lain, kita mengalami berada jauh dari penghiburan. Kita menjadi sedih karena kehilangan kepercayaan diri dan yang muncul di pikiran kita hanyalah kesulitan-kesulitan hidup belaka. Bahkan kita akan merasakan kesendirian dan kesepian karena kita ditinggalkan oleh teman-teman dekat kita atau kita merasa ditinggalkan oleh teman-teman dekat kita, padahal kenyataannya tidak demikian. Teman-teman kita tetap dekat dan memperhatikan kita. Namun karena pikiran kita sudah terobsesi dengan kesulitan-kesulitan, maka yang ada dalam pikiran kita adalah rasa tidak percaya bahwa kita masih mempunyai teman.
Teman kita sejati adalah Kristus sendiri yang menyebut kita sebagai sahabat-sahabatNya (lih Injil Minggu Paskah VI tahun B- Yoh 15:9-17). Bahkan Yesus menjamin bahwa Allah Bapa sendiri yang akan turun tangan menolong dan menghibur kita. “…hatimu berdukacita. … Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur tidak akan datang kepadamu.” (Yoh 16:5-11).Melalui petikan-petikan dari Injil Yohanes kita semakin diyakinkan bahwa hidup kita ini tidaklah hidup sendirian, melainkan Kristuslah yang hidup. Setiap kali kita merayakan Ekaristi kita menyambut Tubuh Kristus yang menemani kita mengarungi kehidupan dengan segala kekurangannya akibat pengaruh dosa.