Kamis, 21 Mei 2015

Kamis, 21 Mei 2015

 

Petikan Injil hari ini (Yoh 17:2-26) mengingatkan saya akan uskup agung keuskupan Madang, Papua New Guinea yang mengatakankepada kami para imam agar mendoakan umat yang dilayani oleh para pastor. Kami diingatkan untuk tidak hanya mengeluh mengenai situasi umat yang dirobek-robek oleh perselisihan antar kampung atau suku yang tidak jarang berakhir dengan perkelahian yang membawa korban jiwa. Bahkan seringkali di antara korban jiwa itu terdapat wanita dan anak-anak.

Kita memang hidup dalam situasi konflik dan perselisihan. Kebudayaan patologis individualis memenuhi kehidupan kita. Semangat pengorbanan dan cinta kehidupan telah kehilangan daya pengaruhnya. Dalam situasi ini kita ingat akan doa Yesus dalam petikan Injil hari ini, “Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini (pada murid generasi pertama Kekristenan) saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; supaya mereka menjadi satu, …”

Menjadi percaya kepada Kristus dan dibaptis bukanlah jaminan otomatis untuk terwujudnya kesatuan persaudaraan Kristiani yakni saling menopang, menolong dan hidup rukun dalam damai dengan yang lain. Semua itu harus diperjuangkan dengan gigih melawan kecenderungan egoism-mementingkan keperluan diri sendiri. Kapankah kita bisa merasakan bahwa Kristus berdoa untuk kita. Dalam perayaan Ekaristi pertama-tama kita mengalami didoakan oleh Kristus yang mencintai kita.

Kita hendaknya yakin bahwa melalui peryaan Ekaristi, perdamaian adalah sesuatu yang tidak mustahil. Tuhan akan mengubah situasi perselisihan dalam keluarga dan komunitas. Bagaimana perubahan itu terjadi, kita tidak mengetahuinya. Yang diharapkan dari kita adalah kesediaan untuk menggantungkan diri dengan hati tak terbagi pada Sakramen Ekaristi termasuk di dalamnya Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus secara regular.

Baru kurang lebih setelah Sembilan tahun saya berdoa memohon perdamaian untuk dianugerahkan pada umat paroki yang saya layani selama dua belas tahun di Papua New Guinea, saya bisa merasakan perubahan dalam situasi umat dimana tampak frekwuensi perkelahian antar kampong mulai berkurang secara siknifikan. Tentu saja tidak hanya berdoa Adorasi dan prosesi Sakramen Maha Kudus namun juga memberi masukan lewat retreat di kampung-kampung penduduk mengenai “Conflict-Resolution” yang pada dasarnya berkat Sakramen Maha Kudus perdamaian antar suku adalah sesuatu yang mungkin. Yang ilahi menguatkan usaha kita semua untuk bersedia menghentikan perselisihan, menyalurkan kemarahan dengan cara yang tepat dan bersedia mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.

 

Comments are closed.
Translate »