Jumat, 22 Mei 2015

Jumat, 22 Mei 2015

Saya masih ingat ketika menghadapi ujian akhir di Seminari sebelum ditahbiskan sebagai seorang imam. Ujian tersebut bernama “Ad audiendas confessions” yaitu ujian kasus-kasus di ruang pengakuan dosa. Seorang Vikjen bersama dua dosen theology moral menguji kecakapan calon-calon imam. Setelah selesaikan beberapa kasus, Vikjen merangkum hasil ujian dengan mengatakan bahwa saya terlalu lunak

kepada penitent. Terlalu mudah kepada penitent itu tidak baik. Saya disarankan untuk lebih “strict” terhadap umat. Jangan terlalu mengikuti keinginan umat. “Kebenaran akan membebaskan kamu.”

Sesudah saya ditahbiskan, saya ditugaskan melayani umat di Papua New Guinea. Ketika belajar Bahasa daerah dan mengikuti introduksi pastoral, saya dibimbing oleh seorang imam berusia tujuh puluh tiga tahun bernama Arnie. Saya bertanya padanya, jika pastor dilahirkan kembali, apakah pastor akan tetap bertindak sama dengan umat seperti yang sudah pastor lakukan? Ia menjawab, “absolutely not. Saya tidak akan terlalu “strict” kepada umat.

Yesus mengabarkan kabar gembira bahwa Allah mencintai kita. Kabar gembira bukanlah nasehat-nasehat moral yang baik, memang mengandung beberapa instruksi moral. Kebenaran akan membebaskanmu, namun kebenaran bahwa Allah sangat mencintai dan maha Rahim kepada umatNya. Bukan Allah yang terlalu “strict” kepada umatNya. Pada waktu Yesus dibangkitkan dari kematian, kitab suci menggambarkan terjadi gempa bumi dan “curtain veil” di bait Allah terbelah. “Curtain veil” adalah batas antara orang-orang umum dan tempat yang paling suci. Pada hari Yesus dibangkitkan, salibNya membelah batas itu, sehingga orang-orang biasa bisa memasuki tempat Allah yang paling suci.

Tantangan bagi kita yang telah mengalami dicintai Tuhan adalah bagaimana kita mencintai Tuhan? Para martir melihat bahwa kalau Yesus bersedia mati secara mengerikan bagi saya, maka saya juga bersedia untuk mati secara mengerikan bagi Kristus. Petrus yang pernah mengkhianati Yesus berjanji untuk mencintai Yesus, dan cintanya kepada Yesus terwujudkan juga melalui kematian sebagai seorang martir. Kita tidak mengalami penganiayaan mengerikan seperti jaman para martir itu, namum kita juga tetap dipanggil untuk mencintai Tuhan melalui kemartiran tanpa menumpahkan darah, artinya memiliki hati yang tak terbagi kepada Tuhan.

One thought on “Jumat, 22 Mei 2015

  1. Setuju Romo. Strick yg berlebihan malah akan membuat umat “melawan” Dan “berontak”. “Orang tua” yg baik adalah mereka yg memberi anaknya kebebasan utk berekspresi dan mengutarakan pendapat

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate »