Menguatkan anti-kekerasan
Ideal Injil tentang anti kekerasan bukan sebuah seruan bombastis. Tetapi seruan kebenaran untuk memakainya sebagai senjata, kuasa melawan yang jahat dan menebarkan kebaikan bagi sesama. Apapun harga yang harus dibayar, kekerasan itu evil, jahat!
St. Paulus memberi kita sejumlah pengalaman yang dialaminya sendiri: dipukul oleh musuh-musuhnya tapi tidak balik membalas. Ia percaya akan kekuatan Tuhan dalam dirinya.
Kita diajak oleh Tuhan hari ini untuk memeriksa motif-motif pribadi dalam diri yang bisa mendatangkan yang jahat terhadap diri dan orang di dekat kita. St Paulus menginspirasi kita untuk mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari.
Sering ketika kita mendapat perlakuan tak adil, kita akan bertanya: apa salah saya? Pertanyaan ini bisa menjadi titik berangkat untuk masuk ke dalam diri, dan bertemu dengan sifat-sifat kekerasan yang masih melekat dalam jiwa kita. Bila kita bisa menemukan akar-akar sifat jahat ini, akan membantu kita mudah mencari jalan keluar saat kita menghadapi kesulitan. Komunikasikan hal-hal jahat yang masih mendera jiwa, dengan kawan dan Tuhan yang dipercaya, dalam doa.
Ada keyakinan tertentu dalam diri yang untuk waktu yang begitu dalam tidak disadari, ditutup-tutupi, menjadi luka tak tersembuhkan, ternyata menghukum kita dari dalam. Yesus menyebutnya, mosaic law, yang menghalalkan mata ganti mata, gigi ganti gigi.
Ada banyak mosaic law dalam diri, cambuk, potong tangan, hukum gantung, hukuman mati, bunuh orang, human trafficking, slavery, radicalism. Gosip, white lie, bullying ….
Merusak nama orang, bunuh karakter-karakter baik orang lain. Membuat jiwa orang menjadi kerdil, lemah, dan kehilangan semangat hidup.
Bahasa-bahasa kekerasan fisik dan non-fisik seperti ini tidak membahagiakan, non-injili, diwarisi dari kitab suci, malah!
Yesus bilang semua ini datangnya dari si jahat (Mt 5, 37). Semoga Tuhan selalu menjauhkan kita dari lingkaran setan ini!