Syarat bekerja di ladang Tuhan

Matthew 10:1-4
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.
Aturan dasar merekrut seorang pekerja di sebuah perusahaan adalah memilih orang yang punya kapasitas sesuai dengan bidangnya, dan menempatkan orang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, serta kesanggupan orang. Namun syarat ini sering kali sulit didapatkan saat kita hendak memilih pengurus baru dalam lingkungan Gereja. Orang yang mampu sering tidak mau, orang yang tidak mampu kadang malah bersedia. Akibatnya kita memilih orang sering tidak sesuai dengan kemampuan dan kemauan, tapi berdasar kesanggupan saja.
Kalau kita membaca bacaan Injil Matius di atas, Yesus memilih berbagai orang untuk ikut serta menyebarkan warta Kerajaan Allah. Apakah mereka itu sejak semula sudah sanggup melakukan karya itu? Apakah mereka punya kapasitas dan kemampuan yang sungguh memadai saat dipanggil? Sepertinya tidak demikian. Selama 3 tahun mereka belajar menjadi murid dan mengerti tugas mereka setelah Yesus pergi meninggalkan dunia.
Disaat kita tak memiliki stok pekerja dan volunter untuk menjadi pengurus Gereja, kita bisa memilih orang-orang yang memiliki kriteria berikut ini:
1. Mau terus belajar : semangat terbuka untuk mau belajar dan mencoba hal baru menjadi salah satu syarat orang untuk bisa bekerja dalam lingkungan Gereja. Mungkin kita tak menemukan orang yang punya kemampuan sesuai dengan bidangnya, tapi bila orang tersebut mau belajar, niscaya ia akan memahami apa tanggungjawab dan tugasnya.
2. Bersedia bekerja sama : kerja di dalam lingkungan Gereja lebih bersifat komunal, mau bekerja sama, tak memaksakan kehendak, tidak otoriter, dan bersedia mendengarkan pendapat orang lain. Kesedian bekerja sama juga membuat orang mau memperbaiki kesalahan, rendah hati memperbaiki diri demi pelayanan sesama.
3. Mau mengembangkan hidup doa dan spiritualitas: bekerja di dalam Gereja berbeda dari bekerja di perusahaan. Dalam Gereja ada unsur rohani, usaha menjalin relasi yang dalam dengan Allah. Para volunter, pengurus Gereja, dan mereka yang terlibat dalam Gereja perlu mendoakan anggota yang lain, berdoa pula untuk diri sendiri agar semakin tahu apa kehendak Allah dalam dirinya. Hingga akhirnya, semua keputusan dan kebijakan yang dibuat adalah hasil dari buah permenungan dan doa demi kemuliaan Allah dan kebaikan semua.