Menyangkal Diri

Menyangkal Diri

Ulangan 4:32-40
Mazmur 77
Matius 16:24-28

Kata “menyangkal diri” seringkali digunakan kita orang Kristen. Kadang istilah ini digunakan untuk menggambarkan penderitaan yang kita tempuh demi mengikuti Kristus. Menyangkal diri menjadi semacam jalan untuk bisa menjadi murid Yesus yang baik. Tapi jika ini langkah pertama kita, mencari suatu bentuk penderitaan supaya kita bisa lebih dekat Yesus, maka kita akan kehilangan langkah pertama sebenarnya yang lebih mendasar.

Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mau mengikutiNya, ia harus menyangkal dirinya. Kalau kita lihat lebih teliti, langkah pertama bukanlah menyangkal diri, melainkan kemauan untuk mengikuti Yesus. Menyangkal diri tanpa didasari kerinduan untuk ikut dekat dengan Yesus menjadi tidak ada artinya.

Kalau kita lihat lebih jauh lagi, Yesus pun berbuat demikian. Ia tidak turun ke dunia untuk mati sengsara di salib supaya kita lebih cinta padaNya, tetapi justru karena dia mengasihi kita begitu hebatnya maka dia mau hidup bersama kita, merasakan segala kebahagiaan dan kesedihan kita. Ia menyangkal diri dengan tidak mempertahankan status keilahianNya (Filipi 2:6) tetapi memilih hidup sebagai hamba. Dia tidak harus menyangkal diri sampai mengorbankan nyawaNya, tapi Dia bersedia melakukannya sebagai bentuk kasih paling besar bagi kita para sahabatNya (Yoh 15:13).

Sebelum kita menyangkal diri, marilah kita berintropeksi diri dulu. Sudahkah kita benar-benar mencintai Tuhan dan sesama kita? Apakah kita mencari-cari cara menyangkal diri semata-mata untuk memuaskan diri sendiri bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang luar biasa? Atau apakah kita bersikap terbuka untuk menerima salib kita apapun bentuknya yang datang pada kita demi cinta kita pada Tuhan?

Comments are closed.
Translate ยป