Mari kita bangun Kerajaan Allah
HARI RABU, MINGGU BIASA KE 22
MASA BIASA
2 September, 2015
Kolose 1:1-8
Lukas 4:38-44
Saudara-saudariku terkasih,
Di bab empat Injil Lukashari ini, dikatakan bahwa Yesus mewartakan pesan harapanNya di Kaparnaum. Dan dikatakan bahwa Yesus ketika sudah agak siang, berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, menemukanNya dan berusaha menahan Dia supaya Yesus jangan meninggalkan mereka. Tetapi Yesus berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dengan demikian kita tahu bahwa Yesus terus melanjutkan misi perutusanNya, berkhotbah di sinagoga-sinagoga di seluruh Galilea, memberitakan kabar gembira di setiap tempat dan kampong yang Ia kunjungi.
Kata “Kerajaan Allah” disebut sebanyak lebih dari seratus limapuluh kali di dalam Perjanjian Baru. Kata “Kerajaan Allah” itu mempunyai banyak arti karena setiap lapisan umat manusia mempunyai tingkatan dan karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu kerajaan yang dimaksud adalah relasi atau hubungan manusiawi, kerajaan kehidupan kita baik di dalam keluarga kita masing-masing dan atau dalam hubungan kita dengan sesama di dalam lingkungan kehidupan dengan status dan karakter yang berbeda-beda.
Oleh karena itu saudara-saudariku terkasih, dalam Perayaan Ekaristi Kristus Raja, teristimewa di dalam Prefasinya kita jumpai kata-kata sebagai berikut: “Sebab Engkau telah mengurapi Yesus Kristus, PuteraMu dan Tuhan kami, menjadi Imam abadi dan Raja semesta alam. Dialah yang melaksanakan penebusan umat manusia dengan mempersembahkan diriNya di altar salib sebagai korban pepulih yang murni. Dialah yang menundukkan alam semesta di bawah kekuasaanNya. Dialah yang akan mempersembahkan kepadaMu, ya Bapa mahaagung, kerajaan abadi yang mencakup semesta alam, kerajaan yang berpedoman kebenaran dan kehidupan, kerajaan yang memancarkan kesucian dan rahmat, kerajaan yang bekelimpahan keadilan, cintakasih dan damai.”
Dari kutipan diatas kita sudah bisa berkesimpulan bahwa “kerajaan” yang dimaksud bukanlah kerajaan politik. Suatu kerajaan yang tidak memiliki batas-batas territorial, suatu kerajaan yang tidak kita jumpai dalam peta dunia. Tetapi suatu kerajaan tentang “kwalitas hidup” dimana Bapa di Surga telah memanggil kita untuk hidup. Selanjutnya kita masing-masing sudah harus menyadari bahwa setiap orang telah dipanggil oleh Allah untuk merealisasikan kerajaanNya. Setiap orang diberi tugas dan tanggungjawab untuk hidup dalam kasih persaudaraan, agar kasih Allah selalu mewarnai dan tinggal di dalam hatinya. Dengan kesadaran dan cara ini kita telah membangun kerajaan Allah.
Namun saudara-saudariku terkasih, sebagaimana kita semua ketahui bahwa tugas dan tanggungjawab ini sangat tidak mudah. Oleh karena itu Yesus mengajarkan bahwa doa “Bapa Kami” adalah dasar dan model dari setiap doa yang kita ucapkan. Ketika kita berdoa “…datanglah kerajaanMu.” Kita perlu berdoa dengan hati yang ikhlas bahwa kita benar-benar mau melakukan “kehendak Bapa.” Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat ikut ambil bagian untuk mendirikan/membangun kerajaan Allah di bumi, di dunia kita masing-masing dengan cara “berbuat baik, ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampni yang besalah kepada kami…” Dengan demikian kita telah ikut ambil bagian “membangun kerajaan Allah di tengah-tengah keluarga, masyarakat, dan lingkungan hidup dimana saja kita berada, dimana dan kemana saja kita ditutus.” Amin.