Kesetiaan menjadi murid Kristus
HARI KAMIS MINGGU KE 22
MASA BIASA
3 September, 2015
Kolose 1:9-14
Lukas 5:1-11
Saudara-saudari terkasih,
Selama saya membantu di beberapa paroki di keuskupan San Diego, dua atau tiga bulan sebelum tahun ajaran baru sudah selalu diumumkan pada misa hari minggu mohon kesediaan beberapa umat yang merasa terpanggil untuk menjadi katekis, mempersiapkan para calon baptis, komuni pertama dan penguatan. Koordinator katekis paroki begitu gencar meminta kesediaan umat yang bersedia memberikan waktu, kemampuan, ketrampilan serta mau membagi pengetahuan kepada mereka yang akan menerima sacramen pembaptisan, komuni pertama dan sacramen penguatan. Pengalaman seperti ini telah saya alami juga ketika saya selama sepuluh tahun menjadi pastor pembantu dan pastor paroki di Jakarta dan Surabaya. Selalu saja ada orang yang bersedia untuk tugas pelayanan seperti ini….membawa dan memperkenalkan para calon untuk mencintai dan menjadi murid Kristus.
Bukan tidak mungkin, ada juga orang yang merasa tidak layak, tidak mampu untuk tugas pewartaan ini. Kadang-kadang mereka beralasan bahwa mereka tidak punya kwalitas, atau mereka merasa tidak atau belum bisa memberi contoh yang baik kepada para calon itu. Ada juga beberapa orang yang setelah menolak merasa tidak aman dan ada pula yang membagi pengalamannya dengan mengatakan, “romo, koq saya masih selalu mendengar suara yang memanggil saya untuk ikut ambil bagian dalam tugas ini. Makin hari suara itu semakin jelas saya dengar. Saya harus buat apa romo?”
Saudara-saudari terkasih,
Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang panggilan mengikuti Kristus. Santu Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose “minta supaya mereka bersedia menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaanNya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar…”
Sementara Lukas dalam bacaan Injil hari ini berbicara tentang panggilan para muridNya yang pertama. Yesus meminta Simon yang disebut Petrus: …”dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Yang menarik adalah jawaban Simon: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Ternyata mereka menangkap begitu banyak ikan, dan dikatakan bahwa mereka harus meminta bantuan dari Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Sungguh-sungguh suatu mukjizat yang membuat mereka berkesimpulan bahwa Yesus adalah seseorang yang luarbiasa…dengan peristiwa itu mereka lalu membuat keputusan untuk mengikuti Yesus. Lalu Yesus memberi mereka suatu gambaran ke depannya bahwa: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”
Saudara-saudaraiku terkasih,
Lalu apa artinya pernyataan Yesus itu untuk kita hari ini? Kita diberi kesempatan untuk merenung, memikirkan sejenak tentang panggilan hidup kita yang secara umum telah kita terima ketika kita dibaptis…bahwa oleh rahmat sakramen pembaptisan kita diberi tugas untuk menjadi imam, nabi dan raja. Tugas keimaman agar kita tetap menjaga dan memelihara kesucian kita sebagai anak-anak Allah; nabi, bahwa kita dipanggil untuk melaksanakan tugas kenabian, sebagai pewarta kabar gembira, dan sebagai raja, kita diminta untuk selalu dan senantiasa menjaga dan memelihara nama baik Allah, sebagai anak-anak Raja. Itulah panggilan umum kita yang telah kita terima ketika kita dibaptis.
Dan kalau kita sungguh-sungguh menyadari arti dan makna “panggilan kita masing-masing sebagai murid Yesus” maka kita sudah harus mulai memikirkan apa sumbangan saya untuk menghantar, memperkenalkan Yesus kepada orang lain, dalam keluarga, di tempat kerja, di sekolah, di paroki dan komunitas kita masing-masing. Selain itu berangkat dari profesi dan tugas yang sudah anda terima dari Tuhan, kita perlu juga menyadari bahwa kehadiran kita diantara dan dengan orang lain, dengan tetangga; mengunjungi orang sakit dan mereka yang berada di dalam penjara kita sudah menjawab panggilan Yesus. Berarti juga bahwa kita telah membuka diri dan membiarkan rahmat Tuhan yang bekerja di dalam diri kita untuk membawa orang lain kepada Tuhan. Amin.
2 thoughts on “Kesetiaan menjadi murid Kristus”
Renungan ini sungguh menarik Romo Raymond.! Bahwa setiap orang diberlakukan Tuhan dengan berbagai – bagai karunia yang berbeda antara yang satu dengan harga lain, namun bisa dipadukan menjadi satu team untuk memuliakan nama Tuhan.
Koreksi maksudnya diberikan kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain nya.
Comments are closed.