Salib

Salib

ChristOnCrossLoop

 

Bacaan I : Bilangan 21:4-9

Bacaan II: Filipi 2:6-11

Bacaan Injil: Yoh 3:13-17

 

Wajahnya Ibu itu kuyu. Keletihan membuatnya nampak lebih tua dari usia sesungguhnya. Dengan suara lirih ia membeberkan perjalanan hidupnya, selama lebih dari 7 tahun menemani suaminya yang terkena stroke dan praktis tak lagi berdaya. Sehari-hari sang suami hanya berbaring atau duduk di tempat tidurnya. Lebih dari sekedar melemahkan daya gerak ragawi, gangguan pasokan darah ke otak itu juga mengubah kepribadian kuat Sang Suami, yang berbalik menjadi manja dan lemah. Akibatnya, Si Ibu tak lagi bebas beraktivitas. Ia harus mengurus pensiun dini dari rumah sakit tempatnya bekerja, dan tak lagi bisa turut rutin berlatih bernyanyi dalam kelompok paduan suara Gereja.

Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Saya tidak kuat lagi Romo. Saya merasa berdosa, karena kadang-kadang terbersit dalam pikiran saya, Tuhan, mengapa tidak Engkau panggil saja suami saya. Mengapa saya harus menderita terus menerus menemaninya. Saya rindu hidup normal, bergaul dan bercanda dengan teman-teman. Karena suami saya, yang sering sangat menjengkelkan itu, saya harus turut jadi lumpuh dan serba terbatas. Mengapa Tuhan memberi salib yang begitu berat?”

 

Saya dan dua orang Ibu yang menengok dia sejenak tak mampu berkata-kata. Kami hanya bisa diam, turut merasakan kepedihan hatinya. Dalam benak saya muncul ingatan akan aneka macam masalah rumah tangga yang saya tahu dari saudara, teman, dan umat lain. Ah… Inilah hidup. Saya terpekur menyadari, suatu saat saya juga bisa menjadi beban untuk orang lain, atau menanggung beban masalah yang tak ringan.

 

Hari ini Gereja memperingati pesta Salib Suci. Bacaan pertama mengajak kita merenungkan perjalanan bangsa Israel menyeberangi padang gurun, dipimpin Musa. Kita dapat bayangkan, suasana perjalanan bisa jadi seperti pada pengungsi, pencari suaka, dan para imigran dari Timur Tengah dan Afrika yang berjalan menyusuri tanah asing dengan bekal yang terbatas, untuk mencari tempat membangun kehidupan yang lebih baik. Meski kesengsaraan di tanah asal belum pudar dari ingatan, kesulitan-kesulitan yang dihadapi bisa jadi membuat orang mudah bersungut-sungut dan putus asa. Seperti keluarga dalam kisah di atas, dalam menapaki perjalanan hidup hari demi hari, sering keluarga menjadi teman berjalan yang memberikan dukungan dan kekuatan. Keluarga menjadi tempat berbagi sukacita dan beban hidup.

 

Dalam kisah perjalanan bangsa Israel, mereka kehilangan kesabaran didera keletihan, kekurangan air dan variasi makanan. Mereka menyatakan keinginannya untuk menyerah, kembali ke Mesir. Ular-ularpun datang menggigit mereka. Seperti mereka, Sang Ibu, juga jutaan istri dan suami lain di dunia, pada suatu saat ingin menyerah, kembali hidup lajang seperti seorang dara atau bujang. Saat itu, pikiran-pikiran dari Roh Jahat datang meracuni hati dan budi mereka, membuat mereka kehilangan arah.

 

Tuhan menawarkan kepada bangsa Israel simbol ular tembaga yang ditinggikan diatas tongkat. Cukup dengan memandangnya, mereka akan terbebas dari racun ular yang menggigit mereka. Tuhan kemudian juga mengirim Sang Putra yang dalam sengsaranya ditinggikan di kayu salib dan wafat dalam kepedihan yang tak terkira. Memandang Kasih Agung dari Yang Terurapi, yang rela menderita dan memberikan nyawa untuk umat manusia, dalam kesulitan apapun, kita juga bisa mendapatkan kekuatan, kejernihan hati, dan kesembuhan. Semoga kita mampu sungguh menghargai anugerah Kasih yang paling Agung itu, dan dalam aneka tantangan dan kesulitan hidup dapat menimba kekuatan darinya, karena lewat salib itu kita tahu, Tuhan berjalan bersama kita, juga dalam saat-saat gelap hidup kita. Amin.

 

Comments are closed.
Translate »