Compassion
Peringatan Bunda Maria Yang Berduka Cita
Bacaan I : Ibrani 5:7-9
Bacaan Injil : Yohanes 19:25-27
Seorang wartawan terpekur memandangi tubuh seekor capung merah yang kaku tergeletak di jalan. Baru saja ia merasakan sukacita manakala ratusan capung mengikutinya mengayuh sepedanya pulang ke rumah melalui jalan pedesaan yang tenang dan damai. Keindahan warna-warni sayap sang capung masih tersisa meski tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Mungkin ia kelelahan. Mungkin sengat panasnya udara tak tertahankan olehnya. Mungkin ia menderita sakit atau memang sudah lewat jangka usianya. Sang wartawan terpaku merenungi: betapa keindahan kehidupan, begitu rapuh berdampingan dengan dinginnya kematian.
Ia teringat pengalaman meliput berita di Somalia. Seorang Ibu memulai perjalanan 27 hari ke penampungan pengungsi di Kenya, dengan tapak kaki telanjang dan bekal seadanya, bersama kelima anaknya. Sehari sebelum mereka tiba, anak perempuannya, 4 tahun, dan anak laki-lakinya, 5 tahun, meninggal karena keletihan yang sangat dan kelaparan. Mereka sempat berhenti berteduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak. Sang Ibu pikir kedua anaknya tidur. Maka ia membiarkan mereka dan sibuk mengurus bayinya dan dua anaknya yang lain. Keceriaan dan celoteh riang anak-anak yang tak mengerti dunia pertikaian penuh kekerasan kaum dewasa, menghilang sepenuhnya dari dua tubuh kecil itu. Keindahan kehidupan, begitu dekat dengan saat gelap pekat kematian.
Bunda Maria, Bunda Yesus, dalam usia yang belia, telah ditempa dengan pelajaran hidup yang merenggutnya dari dunia yang polos sederhana: demi menghadirkan kehidupan yang sepenuh-penuhnya, ia harus sedia membiarkan pedang menembusi hatinya, mengurapinya dengan penderitaan yang tak terperi, sepanjang nafas masih berhembus di raganya. Sadar dan mau, ia menerima tantangan Sang Maha Kuasa, menjadi murid terkasih yang pertama dari Sang Putera. Ia menunjukkan pada dunia arti compassion (cum=bersama, passion=menderita) sebagaimana dipancarkan sepenuhnya dalam hidup dan wafat Sang Putra. Ya. Ia sedia menderita untuk Sang Putera. Ia sedia menderita bersama Sang Putera. Sebab manakah ada orang mencinta hanya dalam saat mulia, dan pergi manakala senja derita berkuasa? Cinta yang sungguh adalah penuh dan utuh.
Seribu empat ratus tahun kemudian, anak-anak rohani Sang Bunda mencatat tujuh penderitaan utamanya: ramalan Simeon saat ia mempersembahkan anaknya di Bait Allah, pengungsiannya ke Mesir, kehilangan anaknya selama 3 hari di Yerusalem, pertemuannya dengan Sang Putra yang memanggul salib ke Kalvari, penyaliban dan kematian Sang Putera, saat ia menurunkan jasad Sang Putera, dan penguburanNya. Para murid Sang Putera, meneruskan semangat Yohanes dan para murid perdana yang diserahkan Sang Putera untuk menjadi anak-anaknya, melukiskan penderitaanya dengan menggambarkan wajah penuh duka dengan tujuh belati menghembus hatinya yang berdarah.
Bunda Maria, Ratu Surga yang mulia, bermahkota dua belas bintang, telah menerima anugerah atas kemenangan kehidupan, iman, harapan dan kasihnya, karena Sang Putra telah menaklukkan kematian, ketakpercayaan, keputusasaan, dan kebencian. Ia kini berbagi sukacita abadi, namun tak pernah lupa saat-saat Ia menapaki kesulitan hidup bersama Sang Putera di dunia, saat Ia ditentang, ditolak, tak dihiraukan, disiksa, dihina, dicela. Sang Bunda mengerti derita kita pula, saat kita kesepian, ketakutan, cemas dan gelisah tak mengerti jalan yang kita tempuh.
Ratapan para Ibu terus memenuhi dunia kita. Dari tanah Syria, Irak, Somalia, Nigeria, juga di tempat-tempat yang nampak jauh lebih memuliakan kehidupan di negara-negara dunia pertama. Mungkin tetangga kita diam-diam hidup penuh berlinang air mata. Mungkin saudari-saudari kita menjerit kesakitan jasmani atau di kedalaman hati dan budi karena pengalaman-pengalaman hidup yang tak tertanggungkan. Mungkin kita sendiri yang terus dibayangi salib atau belati yang merobek hati. Hari ini, kita bisa menimba kekuatan dari ingatan: kita tak sendirian. Tuhan beserta kita. Dia sudah jauh menderita, dan masih terus turut menderita dalam kesesakan segala jiwa. Dan Tuhan memberi kita seorang Ibu yang menemani kita dengan kasih setianya. Seorang Bunda yang telah berpeluh dan berdarah untuk kita pula. Mari kita syukuri rahmat ini. Mari kita satukan diri dalam gerak compassion Sang Putera dan Sang Bunda, dengan makin tersedia untuk mencinta, terutama bagi mereka yang menderita. Amin.
