Kanak-kanak

Kanak-kanak

kids-play-ftr

Bacaan I : 1 Tim 3:14-16
Bacaan Injil: Luk 7:31-35

Minggu lalu, saya diminta para Katekis merayakan Ekaristi di Demonstration School, Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar negeri yang termasuk dalam wilayah paroki Our Lady of the Way, North Sydney. Beberapa hari kemudian, saat berkunjung ke rumah salah seorang Katekis, ia menyatakan keheranannya. Kami menyelenggarakan 1 kali pengajaran untuk anak-anak TK dan SD kelas 1, 2 kali misa, untuk kelas 2 dan 3, dan kelas 4 sampai dengan 6. Ternyata, menurutnya, anak-anak TK lah yang paling ingat apa yang mereka alami, mulai dari ingat nama saya, ingat topik Yesus Sahabat kita, ingat bagaimana saya bertanya pada mereka nama teman-teman mereka, semua pertanyaan, percakapan kami dan aktivitas kami (mereka menyiapkan satu lagu untuk saya dan saya mengajar satu lagu baru untuk mereka). Sang Katekis, Gracelyn, seorang Ibu yang bermigrasi dari Philipina, menyatakan bahwa anak-anak kelas 2 dan 3 hanya ingat separuh pesan kotbah saya, dan kelas 4 sampai 6 separuhnya lagi. Saya berkomentar, “Bisa dimengerti, kan anak-anak kecil belum punya banyak hal lain yang diingat”. “Bukan”, bantah Gracelyn” Anak-anak TK memberi perhatian 100%. Mereka sungguh mendengarkan dengan sepenuh hati, sangat mudah diajar, dan sangat mudah percaya.”

Mungkin memang benarlah penjelasan itu. Bisa dimengerti bagaimana dalam Lukas 18:17 Yesus menyatakan bahwa orang yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya. Toh banyak orang Kristiani menolak untuk memiliki iman seperti kanak-kanak, tetapi memilih untuk berlaku kekanak-kanakan.

Iman seperti kanak-kanak mensyaratkan kepercayaan yang tak bertepi, mendengarkan apa yang disampaikan dan percaya padanya. Iman seperti kanak-kanak sederhana, murni, jujur, semata percaya. Iman yang indah. Iman yang kekanak-kanakan sebaliknya menyebalkan. Perilaku kekanak-kanakan adalah menolak untuk bertumbuh, berperilaku seakan mereka loebih muda dari yang sesungguhnya. Perilaku kekanak-kanakan terlihat manakala orang tidak bertanggung jawab dan berlaku seakan sluruh dunia berputar mengelilingi mereka yang menjadi pusat semesta. Perilaku kekanak-kanakan terpancar manakala orang suka menuntut hal-hal kecil dan suka berkeluh kesah atas kepentingannya sendiri.

Saat kita bertumbuh matang dan dewasa, lewat latihan dan disiplin, sudah semestinya kita tinggalkan sikap kekanak-kanakan.Paulus menyatakan dalam 1 Korintus 13:11 ”Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu”. Ketika usia kita bertambah-tambah, selayaknya kita meninggalkan sikap kekanak-kanakan.

Yesus mengkritik perilaku kekanak-kanakan mereka yang sukar percaya padaNya. Mereka seperti anak-anak yang mau memaksa orang lain menari, tertawa dan menangis mengikuti irama lagu mereka. Mereka menolak untuk memahami orang lain lalu memainkan musik sesuai situasi orang lain. Mereka menolak mendengarkan apa lagi memahami ajaran baru Yesus dengan membawa-bawa Yohanes Pembaptis sebagai pembanding, padahal mereka sendiri tidak sungguh menghargai Yohanes Pembaptis.

Mungkin kita juga suka berperilaku kekanak-kanakan. Setiap kita pasti membawa sifat kanak-kanak dalam diri kita. Persoalannya, bagaimana menjaganya agar tidak menghambat pertumbuhan kita dan sesama. Untuk itu kita perlu rahmat dan berkat pula, agar kita mudah diajar seperti anak-anak, dan tidak menjadi kekanak-kanakan.

Comments are closed.
Translate »