Kotbah
Bacaan I: 1 Tim 4:12-16
Bacaan Injil: Luk 7:36-50
St Fransiskus Asisi bukanlah seorang imam. Meski demikian, ia mendapat dispensasi dari Roma untuk berkotbah. Hal ini hanya bisa terjadi karena dia orang yang sangat istimewa. Cara pewartaannya tak lazim dalam jamannya. Ia dikenal luas suka berkotbah di luar ibadat dalam gereja. Ia lebih suka mewartakan kabar gembira di piazza (alun-alun kota) dan padang rumput, dengan menggunakan cerita-cerita romantic dan lucu. Bahkan ketika berkotbah di dalam gedung gereja, ia suka membawa perlengkapan untuk lebih menghidupkan pesan-pesannya. Salah satu yang paling terkenal dan menjadi populer sampai sekarang adalah kandang/gua natal. Saat itu ia menyediakan palungan, juga membawa sapi dan keledai hidup dalam peringatan Natal di Grecio, yang dicatat oleh St Bonaventure menjadi sarana terjadinya penampakan kanak-kanak Yesus dan mukjijat. Bagi St. Fransiskus, kabar gembira Injil bukan sekedar kata-kata untuk diwartakan atau pesan yang harus disampaikan. Injil adalah karya Allah yang melingkupi dan memulihkan segala mahluk ciptaan bagi kemuliaanNya. Karenanya, ia juga berkotbah pada burung-burung dan ikan. Karenanya, ia menekankan pentingnya keseluruhan hidup sebagai pembawa pesan. Our walking is our preaching.
Pokok pemikiran yang sama disampaikan Paulus pada Timotius. Timotius diminta mengajar iman warisan para rasul bukan hanya dengan kata-katanya, tetapi juga dengan cara hidup yang dijalaninya. Kesaksian hidup ini memang sudah sejak masa Gereja Purba menjadi sarana paling efektif menarik orang-orang menyatukan diri dalam Gereja. Orang yang nampak damai, ramah, baik dan murah hati, penuh sukacita, suka menolong, mudah memaafkan, akan menarik orang-orang yang mencari jalan hidup yang lebih baik, lebih utuh dan penuh.
Contoh sebaliknya dimunculkan dalam bacaan Injil, manakala orang-orang Farisi dengan sombong menghakimi perempuan berdosa yang telah bertobat. Perilaku mereka kiranya menjadi sandungan bagi mereka yang maun menjadi orangYahudi yang baik. Yesus mengajak kita untuk melihat sang pendosa itu dengan kacamata baru, Yesus lebih melihat keutamaan dan kekinian, dan dengannya menarik kemungkinan masa depan yang jauh lebih baik bagi sang pendosa yang bertobat. Kerahiman dan pengertian itu menjadi salah satu daya tarik orang-orang menjadi pengikut Guru dari Nazaret ini.
Kita bisa merenungkan, bagaimana kita sendiri terinspirasi oleh beragam orang yang memikat hati dan budi kita karena bermacam keutamaan, dari kesuksesan hingga kesuciannya. Kita ingin mengikuti jejak mereka. Sebaliknya, kita bisa juga bisa meninggalkan kelompok karena perilaku negative dari beberapa pimpinan atau anggotanya. Semoga, sebagai anggota Gereja, anggota tubuh mistik Kristus, kita dapat memberi sumbangan yang berarti dengan menjadi contoh hidup yang inspiratif bagi orang lain, contoh hidup dimana orang dapat menemukan Kristus dalam diri kita. Semoga.
