Persiapan

Persiapan

prepare the soil

Bacaan I : 1 Timoteus 6:13-16
Bacaan Injil : Lukas 8:4-15

Romo Brendan Byrne SJ, seorang ahli Kitab Suci Perjanjian Baru, dosen dan penulis beberapa buku tafsir Kitab Suci yang diacu banyak scholar, dulu pernah menjadi pembimbing rohani saya sewaktu saya belajar Teologi di Jesuit Theological College, Melbourne. Suatu saat saya menyampaikan pergulatan hidup doa saya. Tak jarang saya meluangkan berjam-jam waktu dalam hening tanpa merasakan gerakan apa pun dalam jiwa saya. Saya tahu Tuhan akan menghargai usaha saya, tetapi ada sedikit kegelisahan, seperti kegelisahan orang yang doanya tak kunjung dikabulkan. “Romo, apakah cukup bernilai waktu yang saya luangkan saat nampaknya tak ada tanggapan dari Tuhan? Apakah tidak lebih baik waktu itu saya pergunakan untuk belajar atau bersosialisasi yang dampaknya langsung terasa dan kelihatan?”

Setelah hening sejenak, dengan tatap mata yang lembut dia bicara, “Dulu di Mebourne pernah ada Uskup yang diwawancarai wartawan. Sang wartawan bertanya, dalam sehari berapa lama waktu yang Bapa Uskup pakai untuk bertemu dengan Tuhan dalam doa pribadi? Bapa Uskup menjawab: 5 menit. Sang wartawan terkejut! Ia bayangkan Bapa Uskup akan menjawab setidaknya 1 jam. Sejenak kemudian dengan tersenyum Bapa Uskup menambahkan: Sebelum 5 menit itu, sebelum saya dapat sungguh hadir di hadapanNya, sungguh mendengar suaraNya, sungguh merasakan kehadiranNya, saya perlu memasuki keheningan dan sabar mempersiapkan hati saya setidaknya 55 menit!

Hari ini kita merenungkan salah satu perumpamaan paling populer dalam Injil, yang menggambarkan beberapa cara Sabda Tuhan merasuki hidup para penerimanya. Sang Penabur adalah Tuhan Yesus, yang lewat para rasul dan penerusnya terus menaburkan Kabar Baik. Ladang adalah hati orang-orang yang menerima Kabar Baik itu. Pesan utama dalam perumpamaan itu adalah bahwa pengaruh Sabda Tuhan dalam jiwa seseorang tergantung sepenuhnya pada persiapan dan pengkondisian hati dan jiwa mereka yang mendengarnya. Seperti seberapa banyak biji yang ditanam tumbuh dan berbuah, tergantung pada pengolahan dan kualitas tanah dimana biji ditabur.
Mari kita berdoa pada Allah Roh Kudus untuk membantu kita menerima dan mengerti Sabda Tuhan dalam kitab suci maupun pengalaman sehari-hari, membantu kita merenungkan, menyimpan dalam hati dan mengalirkan buah-buahnya dalam hidup kita.

Comments are closed.
Translate »