Kamis, 24 September 2015.
Bacaan: Hagai 1:1-8; Mzm 149: 1-2.3-4.5-6a.9b; Luk. 9:7-9.
Pada akhir Injil yang dibacakan kepada kita hari ini tertulis, ”Lalu ia (Herodes) berusaha untuk dapat bertemu dengan Yesus.” Herodes ingin mengetahui siapa Yesus itu. Tentu saja keinginan Herodes itu adalah keinginan untuk menggali pengetahuan tentang siapa tokoh yang mulai dikenal sebagai seorang Nabi besar itu.
Kita sebagai orang Katolik ada baiknya belajar dari Injil hari ini. Kita pun hendaknya terus-menerus bertanya dan mencari jawaban mengenai, siapa Yesus itu. Tentu saja ini bagi kita bukan suatu pertanyaan untuk mendapatkan informasi pengetahuan tetang Yesus. Siapa Yesus itu bagi kita adalah soal hidup atau mati. Apakah Yesus ada artinya di dalam kehidupan kita? Kepada kita ditanyakan tentang Yesus yang kita hayati, bukan Yesus yang kita ketahui dan hafalkan.
Dapatkah kita menghayati Kristus yang menderita karena mencintai Allah Bapa dan manusia? Kristus yang selalu mengabdi dan melayani? Kristus yang selalu menentang dosa dalam rupa-rupa bentuknya seperti: Pikiran jahat, ketidakadilan, hawa nafsu, pencurian, pembunuhan, iri hati, hujat, kesombongan, keserakahan, perzinahan, dan lain-lainnya.
Di samping menghidupi hidup Kristus di dalam hidup moralitas pribadi kita melalui perwujudan nilai-nilai, kita juga diajak oleh Injil hari ini untuk mencermati makna penderitaan hidup kita. Mengapa ini penting? Karena tidak sedikit orang Katolik yang mensiasati penderitaan hidup dengan cara yang salah, seperti dengan: minum miras berlebihan, merokok yang berlebihan, menikmati hiburan malam yang tidak sehat di café-café “strip-tease” dan perzinahan, “gambling” yang berlebihan. Ada juga yang mensiasati penderitaan dengan penipuan-penipuan, penggelapan uang, menjual narkoba. Ada juga yang menarik diri dari pergaulan dalam masyarakat dan kegiatan orang seiman di lingkungan karena merasa takut untuk menanggung beban penderitaan sebagai konsekuensi iman.
Dalam situasi apa pun, kita sebagai orang Katolik hendaknya kembali kepada kepada dasar hidup kita yakni Cinta Kristus. Yesus pernah bertanya kepada Santo Petrus apakah Santo Petrus mencintai Dia? Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada kita dan jawaban kita, apa pun situasi hidup kita, apapun perasaan kita, hendaknya kita menjawab dengan satu kata, ya. Menghadapi penderitaan sehari-hari kita hendaknya kembali kepada Cinta Kristus. Tuhan mencintai saya, dan cinta Tuhan itu cukuplah bagi saya untuk bertahan dalam iman menghadapi penderitaan hidup.
Penderitaan bukanlah pengalaman yang harus dihindari atau dimatikan dengan berbagai macam cara. Penderitaan adalah suatu pengalaman dimana kita tidak mendapatkan apa yang paling kita butuhkan, terutama hilangnya rasa cinta, lenyapnya perasaan dicintai oleh Tuhan dan melunturnya perasaan cinta pada Tuhan. Pengalaman penderitaan bukanlah pengalaman terakhir dari hidup kita. Dalam keadaan pengalaman penderitaan kita hendaknya mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita kehilangan kekuatan untuk mencintaiNya.
Kita mohon kekuatan Roh Kudus yakni mohon karunia yang disebut Karunia Keperkasaan (fortitude), yakni keberanian untuk mengejar yang baik dan tidak takut dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghalangi tercapainya kebaikan tersebut. Dengan Karunia Keperkasaan, kita dapat berkata seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus Rasul, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp 4:13).