Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
Dalam Injil yang dibacakan pada hari ini, kita mendengar bagaimana Yesus sedang berdoa pribadi didatangi para murid. Kemudian Yesus berdialog dengan mereka tetang siapakah Yesus itu bagi orang banyak dan diri mereka sendiri. Pada akhir dialog itu Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia akan mengalami penderitaan sampai dibunuh, namun akan dibangkitkan.
Mungkinkah Yesus merasakan kegelisahan yang mencekam sehingga ia membutuhkan waktu pribadi untuk berdoa dan mencari tahu apa pendapat orang-orang lain tentang diriNya? Apa yang sebenarnya ada dalam hati Yesus pada waktu itu kita tidak tahu. Barangkali kita bisa membayangkan Bagaimana Yesus menyiapkan para murid untuk menghadapi, menerima, dan mengimani Sang Anak Manusia ini apa adanya.
Para murid tentu sudah memahami kemana arah pembicaraan Yesus tentang Anak Manusia. Namun bahwa Sang Anak Manusia harus menederita, dibunuh dan dibangkitkan, ini yang tidak bisa mereka fahami, terima dan Imani. Bahwa Yesus adalah Messias adalah iman mereka. Penderitaan dalam bentuk apapun yang melanda manusia memang pengalaman yang tidak enak dan sering tidak bisa diterima.
Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita alami berbagai persoalan hidup. Bentuknya bisa bermacam-macam : sakit, kesepian, kegagalan, bencana alam, kecelakaan, pengkhianatan, konflik keluarga. Orang beriman adalah orang yang menemukan Tuhan yang hadir ketika mengalami persoalan hidup. Anak Manusia mengalami penderitaan bahkan sampai mati dibunuh yang merupakan puncak penderitaan namun Allah Bapa membangkitkanNya. Allah Bapa hadir dalam penderitaan Sang Anak Manusia.
Menemukan kehadiran Tuhan seperti itu tidaklah mudah. Roh Kuduslah yang membimbing kita sampai kepada kesadaran itu. Marilah kita belajar pada St. Paulus yang percaya, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita.” (Rom. 8:31). Roh Kudus memberikan kita kekuatan kepada kita untuk yakin, percaya dan bersandar kepada kekuatan Allah.
Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus bukannya tidak pernah merasa takut, namun mereka dapat mengatasi ketakutannya karena mereka percaya pada Allah yang dapat melakukan segalanya. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:13)