Kecil
Bacaan I : Roma 8:18-25
Bacaan Injil : Lukas 13:18-21
Seorang mantan tentara Perancis muda berusia 22 tahun memasuki biara Agustinian di pegunungan Alpen. Sayangnya, ia tak cukup cakap dalam usahanya untuk menguasai bahasa Latin. Ketinggian pegunungan Alpen jauh lebih mudah ditaklukkannya daripada puncak-puncak ilmu sintaksis dan tata bahasa Latin. Ia pun mengundurkan diri. Terpukul karena kehilangan impiannya, lemah letih lesu, ia jatuh sakit. Dalam permenungannya ia sadar, hidup membiara bukanlah panggilannya. Ia pun kembali menekuni keahliannya membuat jam dan berdagang batu mulia. Dengan pembawaannya yang pendiam, ia menjadi salah satu orang kecil di kota kecil Alencon.
Seorang perempuan muda dari keluarga tentara bermimpi untuk menjadi biarawati mengikuti jejak kakak perempuannya. Ia ditolak. Alasannya, ia tak cukup sehat. Memang ia punya masalah dengan sistem pernafasannya. Selain itu, sakit kepala datang dan pergi menderanya. Ia pun kembali menekuni keahlian tangannya dan menekuni bisnis pembuatan pernik-pernik kecil renda.
Dua orang yang pernah bermimpi untuk menekuni hidup rohani sebagai biarawan biarawati itu, akhirnya bertemu dan sepakat menyatukan hati dalam perkawinan, 13 Juli 1858. Selama 15 tahun kemudian, mereka dikaruniai 9 anak. Dalam salah satu suratnya, Sang Perempuan muda mengungkapkan, “Kami hidup hanya untuk mereka, merekalah sumber segala kebahagiaan kami.” Anak-anak kecil mereka menjadi tumpuan harapan dan sukacita mereka.
Cinta dan pelayanan pada anak-anak itu tak lepas dari tragedi. Dalam tempo tiga tahun, mereka kehilangan 3 anak bayi serta seorang anak perempuan berusia 5 tahun, meninggal karena bermacam sebab. Dalam kepedihan yang mendalam, Sang Ibu berpegang teguh pada imannya, bahwa mereka akan bertemu lagi dengan anak-anak kecil mereka di rumah abadi di surga.
Anak yang terakhir lahir 2 Januari 1873. Kecil, rapuh dan lemah. Saat Sang Bayi berusia 3 setengah bulan, Sang Ibu sudah kehilangan harapan untuk menyelamatkannya. Namun Tuhan berkehendak lain. Si Kecil dapat melampaui masa-masa sulitnya dan tumbuh segar penuh daya hidup. Cinta kasih yang dicurahkan dua orang tua saleh lewat hal-hal kecil hidupsehari-hari, memberi kekuatan rohani dan inspirasi bagi anak-anaknya. Kelima anak itu akhirnya mewujudkan impian dan doa Sang Ibu: kelimanya menjadi biarawati. Dan Si Bungsu Kecil, menuliskan rahasia Jalan Kecil, jalan kekudusan, yang mengantarnya menjadi salah satu orang kudus Gereja. Orang mengenalnya sebagai Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Santa Theresia dari Lisieux. Kedua orang tuanya, Louis dan Zelie Martin, gagal mewujudkan kerinduan menjadi biarawan-biarawati. Namun lewat cinta dan pengabdian mereka dalam hal-hal kecil hidup sehari-hari dalam keluarga, Gereja dan masyarakat, Tuhan memanggil mereka untuk menjadi Orang Kudus, dikukuhkan oleh Gereja 18 Oktober 2015.
Kedua perumpamaan dalam Injil hari ini menyatakan bahwa iman sekecil apa pun, dapat memberi dampak penting dalam hidup yang lebih luas. Awal yang kecil, bisa jadi menuntun kita pada hasil yang sangat penting di kemudian hari. Kita tak pernah tahu. Louis dan Zelie tak pernah kehilangan iman mereka saat impian-impian mereka buyar, saat keempat anak mereka satu demi satu dipanggil dalam usia sangat belia. Ketekunan iman, harapan dan kasih yang mereka curahkan dalam hal-hal kecil hidup mereka, menjadi sumber kekudusan yang mengalir keluar, menjadi seperti pohon di mana burung-burung bersarang dan berteduh di dalamnya, menjadi seperti ragi yang mengembangkan kebajikan, juga lewat kader-kader tangguh mereka: anak-anak yang meneruskan semangat mereka. St Louis dan St Zelie, doakanlah kami.
