Beda
Bacaan I : Efesus 2:19-22
Bacaan Injil : Lukas 6:12-16
Sinode Keluarga di Roma telah ditutup Sabtu minggu lalu. Dalam sambutannya, Paus Fransiskus mengingatkan kita untuk kembali “berjalan bersama (Syn=bersama; Hodos=jalan)” membawa cahaya Injil, pelukan Gereja dan belas kasih Allah ke setiap bagian dunia, setiap keuskupan, setiap komunitas, setiap situasi. Ditandai dengan keterbukaan, diskusi, konsultasi dan debat yang lebih terbuka, Sinode ini kembali menjadi menyingkap kelompok-kelompok yang berbeda pandangan, bukan saja karena arah kecenderungan teologi yang berbeda, tetapi juga adat kebiasaan dan budaya yang berbeda dari belahan dunia yang berbeda.
Sinode yang merayakan kebinekaan seraya mencari jawaban yang lebih tepat untuk menghadapi persoalan-persoalan keluarga jaman ini, menjadi cermin dari dinamika kemuridan sejak saat Yesus memanggil kedua belas rasul. Santo Simon yang kita peringati hari ini berasal dari kelompok orang-orang Zelot. Mereka adalah kelompok nasionalis fanatik, militant dan legalistik yang sangat menjunjung tinggi pelaksanaan hukum Yahudi. Mereka tercatat sebagai kaum pemberontak yang tak segan mengangkat senjata melawan penjajah Roma. Kita bisa bayangkan, setidaknya saat dia mulai berjalan bersama Yesus dan kesebelas rasul terpilih yang lain, sangat mungkin ia merasakan ketegangan dalam menerima Mateus Sang Pemungut Pajak yang sangat dibenci kaum Yahudi karena bekerja untuk penjajah Romawi. Bersama murid-murid yang lain, ia belajar bahwa Hukum Kasih adalah dasar dan tujuan tertinggi segala hukum dan peraturan. Yesus mengajarkan bahwa pewarta kabar gembira haruslah pergi menjumpai orang-orang di tempat mereka untuk kemudian barulah mengajak pada pertobatan dengan penuh kasih.
Santo Yudas Tadeus dikenal sebagai penulis salah satu surat dalam Perjanjian Baru dan penolong untuk masalah-masalah yang tampaknya tidak ada harapan atau jalan keluarnya. Lewat suratnya, kita dapat melihat persoalan Gereja perdana dalam memperjuangkan ajaran yang benar melawan ajaran sesat (Yudas 3,4), melawan perpecahan dalam Gereja (19) antara lain lewat mendalami pemahaman akan ajaran para rasul (20).
Perbedaan bisa memecah belah seperti yang ditulis Santo Yudas. Bahwa ada ribuan Gereja yang berbeda di dunia menunjukkan peringatan Santo Yudas benar adanya. Tetapi perbedaan bisa juga memperkaya satu sama lain. Yesus memanggil dan mengutus dua belas rasul yang berbeda bahkan bisa bertentangan kepribadian dan latar belakang sosialnya, menyatukan dan memberi tugas yang sama: mewartakan Injil. Hal ini mengingatkan bahwa setiap kita dipanggil untuk menjalanan peran masing-masing dan bekerja sama satu sama lain, saling melengkapi dan mendukung, dalam membangun Gereja. Gereja hendaklah menjadi rumah bagi segala macam orang. Dan seperti para murid, kita tidak diundang Tuhan Yesus karena kita kudus, tetapi untuk memampukan kita bertumbuh sebagai Kristus-Kristus yang lain, menjadi orang-orang kudus. St Simon dan St Yudas, doakanlah kami..
