Rumahku adalah rumah sembahyang
HARI JUMAT DALAM MINGGU BIASA KE 33
20 November, 2015
1 Makabe 4:36-37, 52-59
Lukas 19:45-48
Saudara-saudariku terkasih,
Masih segar dalam ingatan saya ketika untuk pertama kali kembali ke Indonesia setelah kurang lebih 5 atau 6 tahun tidak pernah berlibur ke Tanah Air. Suatu perubahan yang luar biasa ketika saya mampir di Seminari Tinggi Ledalero menyaksikan perubahan yang sangat besar setelah gempa bumi yang dahsyat, meluluh lantakan semua gedung di Seminari Tinggi pada tanggal 12 Desember 1992. Ketika dibangun kembali melalui suatu perencanaan yang matang, wajah Seminari Tinggi tidak seperti yang saya kenal selama saya menjadi penghuni di Seminari ini sejak tahun 1972 sampai tahun 1982. Setelah itu saya bertugas di Irian Jaya, tepatnya di Sorong selama empat bulan lalu saya dipindahkan ke Jakarta, di paroki St. Yoseph Matraman Raya, dan selanjutnya tahun 1985 saya pindah lagi ke paroki St. Yohanes Pemandi, Wonokromo – Surabaya sampai tahun 1992/3. Setelah itu saya menjalani sabbatical di Philippine selama kurang lebih 8-9 bulan dan kemudian saya ditugaskan ke Los Angeles, Amerika Serikat. Kurang lebih lima atau enam tahun kemudian baru mendapat kesempatan untuk berlibur ke kampung halaman dan sempat mampir di Ledalero. Kenangan lama di Ledalero pada masa lampau tinggal kenangan. Semuanya telah berubah.
Pengalaman Yudas Makabe dari bacaan pertama kita hari ini menunjukkan bahwa ia sungguh mempunyai kepedulian yang sangat besar kepada Bait Allah. Bait atau Kenisah Allah adalah tempat kudus untuk bangsa Yahudi, tempat tinggal Allah dimana para imam agung sekali setahun menyampaikan korban kudus kepada Allah, mengajarkan ajaran-ajaran Moses dan menyampaikan kepada semua bangsa bahwa Allah hadir. Yudas Makabe bersama para prajuritnya berupaya membangun, dan menyucikan kembali kenisah Allah yang telah hancur dan dicemarkan oleh musuh-musuhnya.
Saudara-saudari sekalian
Kurang lebih seabad kemudian, Yesus datang ke Bait Allah untuk mengajar seperti yang biasa Ia lakukan setiap hari. Namun, saat itu terjadi sesuatu yang sama sekali diluar dugaanNya. Demikian dalam injil hari ini dikatakan bahwa: “Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedangang di situ, kataNya kepada mereka: Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Yesus sungguh-sungguh marah, dan memang sudah pantasnya Yesus marah. Rumah BapaNya telah dijadikan tempat orang berjualan padahal tempat itu adalah tempat untuk berdoa. Yesus sudah berjalan keliling, mengajar tentang praktek kehidupan agama yang benar, dan dengan tegas mengajarkan bahwa kenisah adalah tempat dimana manusia dapat berdoa dan membawa korban kepada Allah.
Apa yang dapat kita pelajari dari kedua bacaan hari ini untuk kehidupan kita setiap hari? Dewasa ini kenisah hati kita perlu dibersihkan dan disucikan, supaya hidup kita benar-benar dapat menjadi suatu pujian dan kemuliaan Allah. Keadaan ini akan dapat terjadi kalau kita mau kembali kepada Yesus, memohon agar kita kembali disucikan, hidup kita yang telah jauh daripadaNya dipulihkan untuk kembali hidup dalam dan denganNya. Oleh karena itu, saudara-saudariku terkasih, kesempatan untuk selalu membaharui hidup kita tidak hanya terjadi sekali atau dua kali setahun, tetapi sekarang dan setiap hari kita akan selalu diberi kesempatan untuk menyucikan dan membebaskan diri dari belenggu dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan. Amin.