Kepekaan melihat dan menanggapi kehendak dan panggilan Tuhan‏

Kepekaan melihat dan menanggapi kehendak dan panggilan Tuhan‏

HARI KAMIS DALAM MINGGU BIASA KE 33
19 November, 2015
 
1 Makabe 2:15-29
Lukas 19:41-44
    Tidak terasa bahwa sudah 23 tahun saya menjadi misionaris di California, USA. Dalam kurun waktu yang tidak singkat ini ada satu pengalaman yang terbersit dalam ingatan saya, bahwa kebanyakan orang Amerika mengalami kesulitan untuk membedakan orang Jepang dari orang Korea, ataupu orang China dari orang Vietnam. Pernah terjadi, pada suatu hari ketika semua chaplain berkumpul untuk saling membagi pengalaman pendampingan orang sakit; salah seorang teman saya, asli Amerika memberikan laporan bahwa ia baru saja mengunjungi seorang pasien dari Asia. Langsung saya menyelah dengan mengatakan: Oh, saya juga mengunjungi pasien yang sama di ruangan nomor sekian, dan dia adalah orang Korea. Lalu dia menjawab, dari mana pater tahu bahwa dia itu orang Korea? Saya bilang, bahwa selain saya bertanya, saya juga bisa membedakannya dan saya tahu bahwa ia adalah orang Korea. Karena dari pengalaman, saya bisa membedakan orang Jepang dari orang Korea atau orang Vietnam dari orang China, Philippine, atau Thailand; teman chaplain itu langsung menjawab, Japanese, Korean, Chinese they all the same. They all look alike. So they all are Asian.
    Apa sih hubungannya dengan bacaan kita hari ini? Saya mau mengatakan bahwa Allah yang satu dan sama telah melengkapi kita dengan kepekaan serta kemampuan untuk menghadapi setiap permasalahan di dunia ini. Ia telah menempakan di dalam hati kita juga dengan kekuatan Roh Kudus, Roh Allah yang sama yang mejadikan kita semua menjadi anak-anakNya. Tetapi dipihak lain kita melihat bagaimana bangsa Israel dalam bacaan pertama hari ini tercerai berai. Banyak yang secara membabi buta telah mengikuti perintah raja untuk menyembah dewa-dewi palsu. Tetapi Matatias serta anak buahnya berani berkorban dan tidak pernah menyerah kepada perintah raja. Banyak dari orang Israel yang dengan begitu mudah diperdaya oleh sang raja yang lalim itu. Tetapi Matatias dan semua anak buahnya, betapapun dalam jumlah yang sangat kecil, tetap bertahan dalam imannya dan mengikuti Allah karena dengan penuh keyakinan mereka tahu bahwa Allah akan datang dan menyelamatkan mereka. Matatias dan anak buahnya sudah mampu melihat jauh ke depan.
Saudara-saudari terkasih,
    Sementara dalam bacaan Injil hari ini Yesus menangisi kota Yerusalem, bahkan Yesus meramalkan bahwa banyak orang akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Matatias dan anak buahnya. Suatu pengalaman yang sangat tragis yang dialami oleh Matatias seperti yang kita dengar dari bacaan pertama hari ini…”bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan,” (Lukas 19:43). Yesus menangisi kota Yerusalem karena Yesus telah melihat apa yang akan terjadi dengan bangsa Israel. Karena orang Yahudi masih terus menantikan kedatangan Mesias yang akan membebaskan mereka dari perbudakan Romawi, dan membangun kembali bangsa Israel sebagai suatu bangsa pilihan Allah.
    Dari kedua bacaan hari ini, kita lalu bertanya apa saja artinya untuk kita dewasa ini, yang mengakui diri sebagai pengikut Kristus? Apakah kita semua telah memiliki pendirian yang kuat, berpegang kepada iman akan Tuhan dan mau menghadapi tantangan apapun yang akan kita hadapi dengan segala konsekwensinya? Apakah kita juga selalu memberi kesempatan untuk mendengarkan Sabda Tuhan, serta memiliki kepekaan terhadap kehendak dan panggilanNya? Apakah dalam kehidupan kita sehari-hari telah melakukan pekerjaan yang berkenan kepada Tuhan? Apakah kita mampu menghadirkan cahaya Kristus dan meneruskan kasihNya kepada orang lain? Semua pertanyaan diatas sangat tepat untuk kita renungkan dan terapkan sebelum kita mengakhiri tahun Liturgy kita minggu ini. Amin.

 

Comments are closed.
Translate »