Rabu, 2 Maret 2016
Ulangan 4:1,5-9; Matius 5:17-19
Keselamatan dan penebusan kita itu seringkali bergantung pada bagaimana kita melihat hukum yang sudah Allah canangkan kepada kita. Apakah kita melihat secara positif sebagai hal yang penting untuk mengatur dan menata kehidupan kita atau sebaliknya kita melihat hukum Allah tersebut sebagai hal yang mengkerangkeng dan membatasi kebebasan kita?
Sikap dan disposisi Yesus terhadap Hukum Taurat atau tepatnya hukum yang Allah canangkan mungkin dapat terangkum secara utuh dalam Mazmur 119: Betapa kucintai hukum-Mu, Ya Allah! Aku merenungkannya sepanjang hari. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.
Yesus tentunya paham bahwa hukum orang Yahudi itu merujuk pada sepuluh perintah Allah dan kelima Kitab Musa (Taurat). Kesepuluh perintah Allah dan Taurat menjelaskan secara detail perintah dan penetapan Allah untuk umat-Nya, juga keseluruhan pengajaran dan cara hidup yang Allah berikan kepada Israel. Sayangnya, bahwa para ahli taurat kerap kali menambahkan pelbagai macam hal kecil untuk membuat Hukum Taurat menjadi sukar dan bahkan melenceng dari maksud Allah sendiri. Itulah sebabbnya Yesus seringkali menantang dan berargumentasi dengan mereka. Bukan karena Yesus membenci mereka tetapi karena Yesus mau meluruskan kekeliruan pemahaman mereka terhadap Hukum Taurat. Yesus tidak ingin Hukum Taurat (yang merupakan hasil tafsiran) justru disalahgunakan untuk membebankan orang Israel yang sudah sejak semula dijajah oleh kekaisaran Romawi. Yesus tidak ingin sebuah sistem politik yang sudah jahat semakin dikriminalisasikan oleh sistem hukum religius yang berbelit-belit dan kontraproduktif.
Untuk Yesus, esensi (hal yang paling utama) dari setiap hukum yang Allah gariskan adalah cinta, hormat, dan respek terhadap Allah, terhadap orang tua, terhadap kehidupan, terhadap nama baik orang lain, terhadap diri sendiri, terhadap tetangga dan saudara/imu. Takzim dan respek terhadap Allah, diri sendiri dan sesama adalah dasar dari setiap hukum karena dia berasal dari Allah yang adalah Kasih itu sendiri. Setiap orang yang berkata dan bertindak melawan kasih terhadap diri sendiri dan sesama, dia melawan Allah.