Sukacita
6 Mei 2016
Kisah Para Rasul 18:9-18
Mazmur 47
Yohanes 16:20-23
Sangat menarik kalau kita lihat dua anjuran apostolik (apostolic exhortation) terakhir dari Paus Fransiskus memakai kata “sukacita” dalam judulnya: Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) dan Amoris Laetitia (Sukacita Cinta). Dua kata ini juga muncul dalam kalender liturgi Gereja: Minggu Gaudete di masa Adven dan Minggu Laetare di masa Paskah. Dua-duanya ditempatkan di tengah masa penantian, baik akan kelahiran Yesus atau kebangkitan Yesus. Masa penantian yang ditandakan dari warna liturgi ungu, di mana kadang kita merasa cemas atau ketidakpastian atau ketidaksabaran, tiba-tiba dikejutkan dengan warna merah muda pada dua hari Minggu khusus itu. Gereja mengingatkan kita bahwa dalam masa penantian itu pun kita bisa bersukacita akan harapan kabar baik dari Allah.
Hidup kita saat ini pun penuh penantian. Mungkin penantian akan keadaan hidup yang lebih baik, mungkin penantian akan hari tua dan kematian dalam damai untuk berjumpa kembali dengan Allah, mungkin juga penantian akan kedatangan Yesus kedua kalinya yang akan merubah dunia ini menjadi baik selamanya. Masa penantian bisa penuh dengan kesengsaraan, kecemasan, dan ketakutan. Tapi sukacita dalam Kristus menjadi pegangan kita. Bagaimana seorang Paus yang sudah melihat bagaimana kesengsaraan dan penganiayaan yang terjadi di seluruh dunia, tetapi masih bisa menulis tentang sukacita?
Inilah yang dijanjikan Yesus dalam Injil hari ini. Kesedihan akan menjadi sukacita, sama seperti kesakitan seorang ibu akan menjadi kebahagiaan setelah melahirkan. Dan tidak ada siapa pun yang dapat mengambil sukacita kita karena Tuhan sendirilah sumbernya. Sukacita lebih dari sekedar tersenyum atau tertawa sesaat. Sukacita kita rasakan dalam lubuk hati yang paling dalam. Sukacita hanya bisa kita rasakan kalau kita benar-benar yakin bahwa jalan hidup kita akan berakhir baik, sesuai dengan janji Yesus. Kalau Tuhan adalah terang dan keselamatanku, aku tidak akan pernah takut (Mazmur 27).