Doa! ahh hal yang tidak penting… betapa remehnya kita menganggap persahabatan dengan Allah.
Prioritas ialah seberapa pentingnya kita menganggap satu hal.
Dan orang Kristen yang mengabaikan doa telah kehilangan prioritasnya!
Kita menyadari bahwa doa adalah bagian penting dalam kehidupan rohani namun tidak selalu kita setia melakukannya. Ada saja halangan untuk berdoa dan kerinduan itu tidak selalu muncul. Yang menyebabkan hal itu terjadi ialah karena kita orang berdosa, kita merupakan target serangan iblis yang senantiasa berupaya menjauhkan kita dari Tuhan, kita kurang dapat mengatur waktu dengan baik, seringkali kita kehilangan keseimbangan hidup dan kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung.
Banyak orang percaya bertekad mereka akan berdoa kalau mereka mempunyai waktu. Tetapi tiap minggu, mencari Kristus menjadi kurang penting bagi mereka daripada mencuci mobil, membersihkan rumah, mengunjungi teman, makan di luar, pergi belanja, menonton, olah raga dan lain sebagainya. Mereka cuman tidak menyediakan waktu untuk berdoa.
Mungkin memang benar ia sibuk sekali. Namun yang menjadi soal bukanlah kesibukan, melainkan siapakah Yesus itu bagi dia. Bila Yesus sungguh berharga bagi dia, pastilah ia akan menemukan waktu bagi-Nya. Yesus sendiri dalam hidup-Nya seringkali amat sibuk, sehingga kadang-kadang bahkan tidak sempat makan, karena orang banyak sekali. Namun biarpun demikian Ia menyempatkan diri pada malam hari pergi ke gunung untuk berdoa, atau kadang-kadang pagi-pagi sebelum fajar menyingsing Ia telah naik ke bukit untuk berdoa. Yesus sangat sibuk, namun ia mengambil banyak waktu untuk berdoa, karena doa justeru merupakan napas hidupNya. Ia menjadikan perjumpaan dengan Bapa-Nya dalam doa itu prioritas-Nya yang pertama. Karena itu dalam segala kesibukan-Nya Ia telah menemukan tempat dan waktu untuk berdoa. Keduanya perlu. Kalau kita gagal menemukan-Nya, kita juga akan gagal dalam berdoa dan itu berarti awal kegagalan hidup kita.
Manusia memang tidak berbeda pada jaman Nuh dan Lot. Prioritas utama mereka adalah makan dan minum, beli dan jual, kawin dan memperhatikan keluarga mereka. Mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan pesan Tuhan tentang penghakiman yang akan tiba. Sehingga tidak ada yang siap pada saat penghakiman itu tiba!
Kenyataannya, tidak ada yang berubah selama berabad-abad. Untuk sebagian besar orang Amerika, bahkan di seluruh belahan dunia, Tuhan tetap menempati tempat paling bawah dari daftar prioritasnya. Dan prioritas utama adalah penghasilan, keamanan, kesenangan, keluarga. Tentu saja, untuk banyak orang, persahabatan dengan Tuhan di dalam doa tidak ada dalam daftarnya. Tetapi itu tidak menyedihkan Tuhan, namun secara realitas betapa kecilnya Tuhan dihargai oleh anak-anak-Nya sendiri!
Banyak orang menyangka bahwa kalau dia memiliki penghasilan yang baik, menemukan kesenangan hidup duniawi, maka dia akan bahagia dalam hidupnya. Namun, dengan berjalannya waktu dan meningkatnya usia, kebahagiaan yang semu itu tidak selamanya mereka kecapi. Kekosongan hidup, kesepian, kebingungan malah semakin menguasai hidup mereka karena tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi.
Ada satu hal yang menjadikan hidup kita ini indah, berarti dan berhasil, yaitu persahabatan yang mesra dengan Allah. Tanpa itu segalanya akan menjadi kosong, sebaliknya persahabatan tersebut akan menjadikan hidup kita sungguh-sungguh indah. Persahabatan ini adalah karunia Allah yang telah mengasihi kita lebih dahulu (1 Yoh 4:10) dan yang menjadikan kita sahabat-sahabat-Nya (Yoh 15:15). Persahabatan itu muncul dari pemberian yang timbal balik: anugerah doa dan persembahan waktu. Anugerah doa berasal dari Roh Allah yang harus kita terima dengan hati yang murni dan penuh syukur. Persembahan waktu adalah bagian kita: kita harus mempersembahkan waktu kita yang terbaik kepada Allah dengan sukacita.
Persahabatan yang mesra membutuhkan kesendirian, untuk berada berdua dengan sang sahabat, supaya dapat berbicara secara mendalam dan mesra. Persahabatan dengan Allah tidak akan berkembang bila kita tidak berusaha berada sendirian dengan Allah tanpa diganggu. Karena itu Tuhan Yesus memberikan petunjuk ini: “Bila kamu berdoa, masuklah ke dalam kamarmu dan kunci pintunya dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi” (Mat 6:6). Dan bila Yesus hidup pada zaman kita, Ia pasti akan menambahkan: “matikan radio, tv dan tilpun lebih dahulu, baru berdoa. Perjumpaan dengan Allah dalam doa ini harus menjadi prioritas kita yang top. Bila kita menghargai persahabatan ini sungguh-sungguh, kita tidak akan membiarkan perjumpaan itu diganggu. Perjumpaan yang teratur itu akan memberikan arti yang mendalam kepada hidup kita.
Memang, cintakasih menuntut adanya prioritas. Bila kita menyadari hal ini banyak persoalan dalam hidup akan terpecahkan. Bila kita sangat sibuk dengan pelbagai macam tugas atau pekerjaan, jangan mencari waktu yang luang, melainkan harus mengubah prioritas kita. Yang kita perlukan adalah meninjau kembali prioritas kita. Seorang ayah yang sedang bepergian dan dari rumah tiba- tiba mendapat kabar, bahwa anaknya sakit keras, bukankah ia akan meninggalkan segalanya dan segera pulang untuk menengok anaknya yang sakit itu ? Mengapa ? Karena anak itu lebih berharga bagi dia daripada semua urusan pekerjaannya dan karena itu kehadirannya pada anak itu menjadi prioritas nomor satu baginya saat itu. Karena itu bila kita tidak dapat menemukan waktu untuk berdoa, berarti bahwa ada sesuatu lain yang lebih berharga bagi kita daripada persahabatan kita dengan Allah.
Allah sendiri telah menawarkan persahabatan-Nya kepada kita dan kita diundang untuk memasuki suatu hubungan yang lebih mendalam lagi. Tetapi hal itu menuntut adanya persembahan waktu kita yang berharga dengan murah hati dan pada hakekatnya adalah persembahan diri kita sendiri kepada Tuhan. Jadikan waktu doa kita prioritas yang utama dalam hidup kita, buatlah janji pertemuan dengan Allah dan jadikan hal itu sesuatu yang penting dan suci. Walaupun mungkin kadang-kadang tidak dapat berdoa, cobalah tetap duduk tenang di hadapan Tuhan, sekedar menemani Dia. Dengan cara demikian persahabatan kita dengan Yesus akan semakin berkembang dan mendalam. Semakin setia kita bersahabat dengan Tuhan Yesus di dalam doa dan dalam apapun yang kita lakukan semakin penuh pula sukacita di dalam hati kita dan sungguh kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati.
By Sister Mary Jacinta, P.Karm