Kasih Bapak
HARI KAMIS DALAM MINGGU BIASA KE SEBELAS
16 Juni, 2016
Sirakh 48:1-14
Matius 6:7-15
Saudara-saudariku terkasih,
Pada umumnya kita dengar orang bilang “kasih ibu.” Tetapi hari ini thema renungan kita berpusat pada “Kasih Bapak.” Dalam doa “Bapak kami” kita diberi kesempatan untuk mendalami dan merenungkan betapa besarnya kasih Allah Bapak kita dan dengan demikian kita menjadi lebih percaya bahwa kita benar-benar dikasihi oleh Bapak kita yang di Surga.
Hari ini kita diajak untuk mawas diri, mengoreksi diri kita masing, “sejauh mana dan seberapa dalam relasi kita dengan Allah Bapak kita?” Renungan hari ini sama sekali tidak bermaksud semata-mata untuk menyoroti sisi negatip dari kehidupan iman kita kepada Tuhan, tetapi secara positip kiranya lewat renungan ini kita akan bisa lebih diberi kesempatan untuk meningkatkan kwalitas relasi kita dengan Tuhan dalam dan melalui doa-doa kita. Tanpa mengada-ada, seringkali kita sebagai orang Katolik kalau diminta untuk membawakan doa-doa spontan, agak tersendat-sendat bahkan samasekali memberi kesan tidak bisa mengungkapkan secara tegas keintimannya dengan Tuhan. Sungguh memalukan kalau kita diberi kesempatan untuk berdoa, atau memimpin doa, memberi kesan bahwa kita tidak bisa fokus, tidak bisa konsentrasi, bahkan sepertinya kita kurang beriman/percaya, atau sepertinya tidak pernah belajar berdoa, memberi kesan bahwa kita tidak pernah berdoa.
Dalam Kitab Suci kita sering membaca bahwa Yesus sendiri beberapa kali menyediakan waktu untuk berdoa. Sebagaimana halnya hari ini Yesus memberi kita nasihat untuk senantiasa membangun serta menghidupkan waktu doa. Oleh karena itu pada awal perikope ini Yesus mengatakan: “Dan apabila kamu berdoa,…etc”...artinya “ketika” kamu mau berdoa…ketika kamu memberi, menyediakan waktu untuk berdoa…dan seterusnya. Kita tahu kapan, kepada siapa dan dengan siapa kita membangun relasi pribadi kita. Oleh karena itu Yesus memberi kita doa resmi ini, yakni doa “Bapak Kami” yang sering diucapkan oleh setiap orang katolik dan bahkan sudah menghafalnya; seringkali diucapkan tanpa merenungkan lagi arti dan makna dari setiap kata dalam doa itu.
Yesus memberi kita model doa. Dua kata pertama dari doa resmi itu adalah “Bapak kami”. Suatu sapaan yang mengajak kita untuk mulai memasuki dialog dinamis dengan Bapak yang baik dan penuh kasih. Doa ini oleh banyak orang kudus mengatakan bahwa materi dan isi doa Bapak Kami amat sangat kaya.
Misalnya Santa Therese dari Lisieux, dalam autobiography nya mengatakan: “Kadang-kadang ketika saya mengalami kekeringan dalam hidup rohani dan tidak ada satu pikiran yang baik sekalipun dalam benak saya; saya perlahan-lahan mengucapkan doa “Bapak kami, atau Salam Maria;” maka doa-doa ini cukup membawa saya keluar dari kekeringan itu, dan saya kembali merasa segar.”
St. Augustinus sendiri pernah menulis pengalaman hidup doanya dengan mengatakan: “Kalau kita berdoa dengan cara yang benar maka itu sudah cukup menjadi apa yang kita mau katakan, seperti yang ada dalam doa “Bapak kami”.
Saudara-saudariku terkasih,
Ketika kita berdoa Bapak Kami, entah itu dinyanyikan secara pribadi ataupun bersama dengan sesama saudara dan saudari seiman baik yang hidup maupun yang sudah meninggal; Kita berdoa kepada Allah yang adalah Bapak kita, dimana kita memanggil Allah adalah Bapak kita, dan kita adalah anak-anakNya. Dan dalam doa ini kita belajar menghormati kekudusan namaNya, berdoa untuk kebutuhan kita, dan memohon pengampunan serta pembebasan.
Bacaan pertama hari ini dari kitab Sirakh kitapun diingatkan akan perayaan kekudusan hidup Elijah. Maka kalau kita berdoa “Bapak Kami” kita diingatkan lagi akan kekudusan hidup yang terus menerus menjadi pusat hidup dan kehidupan kita. St. Cyrilus dari Jerusalempun mengingatkan bahwa “Doa Bapak kami” telah menjadi undangan untuk mencintai.
Sekali lagi St. Cyrilus mengatakan: “Oh, betapa besarnya kasih Allah untuk kita umatNya. Bagi mereka yang telah menjauhkan diri daripadaNya dan bagi mereka yang telah jatuh kedalam kekelaman dosa, Ia mengampuni dosa-dosa mereka dan memberi mereka kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam rahmatNya dan memberi mereka kesempatan lagi untuk memanggilNya “Bapak”. Amin.