Mati
Bacaan I : Yeremia 18:1-6
Bacaan Injil : Mateus 13:47-53
Ketika seorang imam mendoakan sabda Yesus dalam Doa Syukur Agung, “Inilah tubuhKu… Inilah darahKu”, ia menyatakannya dalam nama Yesus. Dalam penghayatan hidup yang disucikan dan dipersembahkan, ia sekaligus menyerahkan tubuh dan darahnya bagi Kristus dan bagi Gereja. Dalam upacara sakramen, seorang imam bertindak In persona Christi, “dalam diri manusia Kristus”. Dalam pemahaman ini, kita bisa mengatakan, sekali lagi, secara kejam dan brutal, Kristus dalam diri Romo Jacques Hamel yang sedang menghunjukkan misa, dibunuh di gereja kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray, Rouen, Normandia, Perancis, tiga hari lalu. Sekali lagi, seruan “Allahu Akbar” oleh kedua teroris Daesh serasa sangat menyakitkan karena nama Allah dipakai untuk menandai tindakan Iblis, Sang Musuh Allah. Tempat kudus dimana kasih Allah diwartakan, dikotori oleh aksi kekerasan yang mematikan atas dasar kebencian yang membutakan nurani dan pikiran sehat. Sekali lagi darah martir membasahi tanah Rouen. Lima ratus delapan puluh lima tahun lalu, 30 Mei 1431, tanah ini menjadi saksi kematian Santa Jeanne d’Arc yang dibakar hidup-hidup karena dianggap sesat oleh pengadilan Inggris. Kata-kata St Jeanne d’Arc kiranya juga akan terlontar dari mulut Romo Hamel yang wafat sebagai imam yang mempersembahkan korban Kristus dan dirinya sendiri: “Aku tidak takut… aku lahir untuk melakukan ini”.
Dengan tajam Romo Jacob Boddicker SJ merefleksikan, bahwa ISIS mengira mereka telah merenggut sebuah kehidupan. Sesungguhnya, hidup Romo Himel sudah dipersembahkan kembali pada Sang Penciptanya sejak ia memasuki hidup pelayanannya. Adel Kermiche dan Abdel Malik, kedua pelaku terror, tak bisa mengambil apa yang sudah diberikan kembali pada Sang Pencipta. Lebih lagi, imam sepuh yang dikenang sebagai pribadi yang baik hati ini sesungguhnya sudah memberikan 9 tahun bonus dari hidupnya, memilih untuk tidak pensiun menikmati masa tuanya saat usianya telah mencapai 75 tahun. Ia setia dan terus bersemangat melayani hingga akhir hayatnya pada usia 84 tahun. Adel dan Abdel, meski terasa pedih perih untuk kita semua, sesungguhnya memberikan pada Romo Hamel, mahkota kemartiran.
Perumpamaan dari bacaan Injil berbicara tentang akhir jaman. Perbedaan antara mereka yang menjadi anggota Kerajaan Allah dan yang bukan akan makin menjadi nyata. Kita tak tahu kapan persisnya kiamat itu terjadi. Tapi kita bisa mencoba memastikan, bahwa hidup kita menyatakan secara konsisten bahwa kita anggota Kerajaan Surga, sebagaimana kesaksian hidup Romo Hamel yang wafat sebagai martir. Kita juga tak tahu kapan kiamat kecil kita, kematian kita, datang menjemput kita. Seraya turut mendoakan kesejahteraan arwah Romo Hamel dan saudara-saudari kita di Perancis yang berduka, mari kita terus siapkan diri jika sewaktu-waktu kita dipanggil. Semoga bagi kita juga berlaku keyakinan Gereja yang memancar dari perayaan para kudus: hari kematian mereka, betapapun gelap dan tragisnya, adalah hari kelahiran baru mereka dalam hidup bahagia kekal dan abadi, yang patut dirayakan.
