Pesta St Marta
Bacaan I : Yeremia 26:1-9
Bacaan Injil : Lukas 10:38-42
Paulo Freire, seorang ahli pendidikan, menyatakan bahwa refleksi tanpa aksi adalah verbalisme (omong doank), aksi tanpa refleksi adalah aktivisme yang sembrono. Ia menempatkan aksi dan refleksi dalam satu dataran yang sejajar. Agar hidup lebih bermakna dan berdaya ubah, keduanya haruslah muncul seimbang. Logika yang dipakai adalah logika AND (dan), bukannya OR (atau). Refleksi memberi dasar asal, makna dan arah, sementara aksi membadankan ide menjadi sebuah realitas yang bukan sekedar di angan-angan. Pesta St Marta memberi kita kesempatan meninjau kembali hidup kerohanian kita dalam kacamata ini: sudahkah kita mengupayakan keseimbangan antara doa dan karya? Sudahkan kita mengupayakan integrasi keduanya? Sudahkan kita mengupayakan peningkatan mutu doa-refleksi dan karya-aksi kita?
Heroisme aksi menjadi pendorong utama panggung dunia. Kita merasakan kepuasan indera yang mencecapi perubahan nyata dalam hidup. Pahlawan yang dielu-elukan adalah mereka yang menggerakkan perbaikan yang tercerap. Lihat saja, semboyan Presiden RI Jokowi, “Kerja, kerja dan kerja”. Salah satu dasar evaluasi penggantian menteri dalam reshuffle jilid II Kabinet Kerja kemarin, misalnya, adalah untuk pemercepatan kerja dan optimasi perubahan. Tak ada yang salah darinya, kecuali bahwa acap kali kita lupa, kualitas muncul dari waktu-waktu yang didedikasikan untuk merenung dalam-dalam, merencanakan kerja secara serius, meletakkan fondasi yang kuat.
Basilika Santo Petrus, misalnya. Dikerjakan oleh banyak arsitek terkemuka Italia termasuk Donato Bramante, Sangallo, Raphael, Peruzzi, Michelangelo, memakan waktu pengerjaan selama 120 tahun sejak groundbreaking 18 April 1506. Perencanaan bahkan sudah dimulai sejak jaman Paus Nikolas V (1447-1455), dan terus disempurnakan berbareng dengan pengerjaan. Pernyataan dari pelukis, pemahat, pujangga dan arsitek besar Michael Angelo, yang menerima pekerjaannya karena dipaksa oleh Paus Paulus III, menjadi cermin semangat di balik karya besar itu: “Aku menjalankan karya ini hanya demi cinta pada Tuhan dan rasa hormat pada Para Rasul”. Karya besarnya, baginya adalah suatu doa.
Dalam Injil, Marta ditegur Yesus, bukan karena niat baiknya untuk melayaniNya sebaik-baiknya. Kita tahu, betapa cukup merepotkan menyiapkan rumah dan hidangan untuk menjamu tamu. Marta diajak untuk mengupayakan keseimbangan, untuk tidak melihat duduk mendengarkan Sabda seperti dilakukan oleh saudarinya, Maria, sebagai hal yang kurang pentingnya. Yesus mengajak Marta melihat bahwa mendengarkan Sabda dan berdoa, meletakkan dasar spiritual dari karya, adalah hal yang jauh lebih penting. Dengannya, kita bisa melayani dengan sikap yang tulus, penuh kasih dan sukacita. Dengannya, bahkan tindakan yang kecil sederhana pun menjadi sangat berarti karena dilaksanakan dengan sepenuh kasih. Aksi menjadi terasa manis dan indah, karena menjadi mengalir dari kontempasi, dari doa.
Semoga demikianlah kita perbaharui lagi jalinan kontemplasi dalam aksi kita. Semoga Allah lah yang menjadi pusat segala tindakan kita. Semoga setiap usaha kita arahkan hanya untuk satu tujuan: Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG), semuanya demi kemuliaan Allah yang lebih besar.