Wisma Elia
Sabtu, 20 Agustus 2016
Pw. St. Bernardus, Abas
Bacaan I : Yehezkiel 43: 1-7a
Inil : Matius 23: 1-12
Pagi itu dalam acara misa di Wisma Elia, wisma khusus untuk para Karmelit lanjut usia, terlihat suatu hal yang sungguh-sungguh menyentuh hati. Para Karmelit yang telah lanjut usia saling menolong. Mereka yang masih sehat menolong mereka yang telah lanjut dan sulit berjalan. Mereka mendorong sesamanya yang duduk di kursi roda. Sungguh suatu peristiwa yang nyata bahwa hidup bersama sebagai saudara sungguh membahagiakan. Tak ada lagi batas antara imam dan bukan imam, tak ada batas antara profesor biarawan dan biarawan biasa. Semuanya lebur dalam suasana persaudaraan. Semangat itu bukan lagi sebagai sebuah slogan, namun suatu hidup yang nyata. Apakah rahasianya sehingga hal ini bisa terjadi? Rendah hati.
Hari ini dalam bacaan pertama Nabi Yehezkiel mengingatkan kita betapa pentingnya bagi kita untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Sikap inilah yang membuat kita akan ditinggikan Tuhan. Dalam Injil Yesus juga selalu mengingatkan kita bahwa Allah hanya berkenan kepada mereka yang sungguh mau merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Sikap inilah yang membuat Allah mau meninggikan kita jauh melampaui apa yang kita harapkan. Semoga pula sikap rendah hati ini bukan hanya behenti dalam pikiran kita, namun sungguh mendarat dalam sikap hidup kita. Semoga sikap para kamelit lanjut usia yang masih mau saling menolong juga menyemangati kita untuk saling menolong dalam sikap rendah hati. Amin. Tuhan memberkati.
Doa:
Bapa di surga, Engkau sungguh berkenan kepada hati yang selalu merunduk di hadapanMu. Engkau juga selalu berkenan kepada hati yang selalu mau merendahkan diri karena berhadapan dengan kuasaMu, bantulah kami ya Allah Tuhan kami, agar kami selalu tunduk setia kepada perintah-perintahMu. Ya Bapa, kiranya hati kami selalu hanya terarah kepada belas kasihMu. Amin.