Dua Jalan Kehidupan, Satu Tujuan

Dua Jalan Kehidupan, Satu Tujuan

 
Jumat dalam Pekan Biasa ke-19
12 Agustus 2016
Matius 19:3-12
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus memperlihatkan dua jalan kehidupan yang Allah kehendaki bagi kita. Yang pertama adalah kita dipanggil untuk hidup dalam pernikahan atau bekeluarga, dan yang kedua adalah untuk hidup selibat (atau tidak menikah). Walaupun kedua jalan kehidupan ini sangat berbeda, dengan keunikannya masing-masing, keduanya memiliki fondasi yang sebenarnya sama, yakni komitmen. Tidak hanya sekedar komitmen, tetapi komitmen untuk mengasihi dan memberi hidup.
Tentunya, kedua jalan kehidupan ini tidaklah mudah. Di manapun kita panggil, selalu ada banyak tantangan dan kesulitan. Hidup pernikahan sendiri penuh dengan lika-liku. Suami-istri menghadapi berbagai permasalahan seperti keuangan, ketidakdewasaan emosional, komunikasi yang tidak lancar, kesulitan dalam membesarkan anak-anak, sampai ketidaksetiaan dan kekerasan di rumah tangga. Hidup selibat juga tentunya memiliki permasalahannya sendiri. Tidak sedikit sekarang orang yang tidak lagi memikirkan hidup bekeluarga karena sibuk dengan karier, fokus dengan pekerjaan, atau memang melihat hidup berkeluarga sebagai sesuatu yang merepotkan. Kondisi seperti ini bukanlah selibat yang sejati karena fondasinya bukanlah komitmen untuk mengasihi, tetapi diri sendiri. Mereka yang hidup selibat, entah itu sebagai imam, bruder, suster, rahib atau awam, dipanggil untuk menjadi sarana kasih yang terbuka dan tanpa keterikatan.
Kedua bentuk kehidupan tidaklah mudah karena mengasihi itu pada dasarnya sulit. Terkadang kita dicobai untuk mencari solusi mudah dan instan menghadapi berbagai tantangan di kedua jalan hidup ini. Bagi mereka yang telah menikah, perceraian sepertinya menjadi jalan keluar cepat. Bagi mereka yang selibat, godaan untuk tidak setia pada jalan hidup yang dipilih juga sangat kuat.
Namun, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kedua jalan hidup ini bukanlah karya kita manusia, tetapi karya dan kehendak Allah sendiri. Yang menyatukan pria dan wanita dalam hidup berkeluarga adalah Allah sendiri. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:6).” Yang dipanggil untuk selibat, mereka menjalaninya demi Kerajaan Surga (lih. Mat 19:12). Oleh karena itu, kita harus selalu kembali kepada Dia yang memanggil dan mengutus kita. Hidup doa di dalam keluarga dan mereka yang selibat menjadi pokok. Mengikuti Ekaristi kudus secara rutin dan penuh devosi adalah fondasi. Keikutsertaan dalam komunitas Gereja tentunya menjadi sarana rahmat. Allah yang telah memulai karya baik di antara kita akan membawa semua dalam kesempurnaan di dalam Yesus Kristus (lih. Fil 1:6).
Comments are closed.
Translate »