Biar Anak-Anak Datang Kepada-Ku
Sabtu pada Pekan Biasa ke-19
13 Agustus 2016
Matius 19:13-15
Meletakan tangan di atas kepala seseorang merupakan tradisi yang banyak ditemukan di berbagai budaya. Di Filipina, ada tradisi ‘Mano Po’ dimana mereka yang lebih muda akan menggengam tangan mereka yang lebih tua atau yang dihormati, dan kemuadian meletakkan tangan orang tua ini di dahi mereka. Di Indonesia, saya juga diajari untuk menciup tangan orang tua sebelum berangkat sekolah. Di Gereja Katolik sendiri, tradisi ini adalah sangat penting. Di dalam sakramen imamat, ritual yang paling penting adalah saat uskup meletakan tangannya di atas kepala sang calon imam. Setelah ritual penumpangan tangan ini, jati diri sang calon imam berubah secara radikal. Dia bukan lagi seorang awam, tetapi telah menjadi imam Yesus Kristus.
Walaupun hadir dalam konteks dan budaya yang berbeda, penumpangan tangan secara umum merupakan simbol dari pemberian berkat. Dalam Injil hari inipun kita membaca bahwa ada orang yang membawa anak-anak kepada Yesus agar Ia dapat meletakan tangan-Nya atas mereka dan berdoa. Tentunya, ini orang ini ingin anak-anak dapat menerima berkat dari Yesus sendiri.
Namun, para murid Yesus justru marah dan menghalang-halangi orang ini dan juga para anak kecil. Kita tidak begitu tahu kenapa para murid justru menghalangi. Mungkin mereka ingin Yesus beristirahat setelah lelah menjalani berbagai pelayanan. Mungkin mereka ingin Yesus menjadi milik mereka saja. Atau mungkin mereka tidak tahu bagaimana berurusan dengan anak-anak kecil. Apapun alasannya Yesus tidak setuju dengan perbuatan mereka. Ia pun mengizinkan orang itu membawa anak-anak kecil kepada-Nya dan Ia memberkati mereka.
Merenungkan Injil hari ini, kita bisa bertanya: apakah kita seperti para murid yang justru mempersulit anak-anak kecil yang ingin mendapat berkat dari Yesus, atau kita seperti orang yang mencoba membawa para anak agar Yesus bisa meletakan tangan-Nya atas mereka? Apakah kita dan prilaku kita membawa orang lain lebih dekat dengan Tuhan atau malah menjauhi Tuhan? Apakah kita mendidik anak-anak kita untuk mencintai Tuhan dan Gereja-Nya, atau kita sibuk dengan urusan pribadi kita sendiri? Apakah kita menjadi sarana berkat Tuhan bagi mereka yang membutuhkan atau justru menjadi sebuah hambatan?