Tuhan adalah Pelupa
Selasa, 17 Desember 2013
Matius 1: 1-17
Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus, mungkin kita bertanya-tanya apakah pentingnya silsilah keluarga Yesus Kristus ini? Buat apa silsilah ini dimasukkan dalam Injil? Injil (euangelion: kabar gembira) adalah berita gembira dari Allah untuk kita. Apakah kita bisa menemukan kebahagiaan dalam Injil yang kita baca hari ini? Bukankah Injil hari ini melulu hanya mengatakan silsilah Tuhan Yesus? Mungkin sepintas kita punya pertanyaan demikian. Namun kalau kita lihat dengan sungguh-sungguh ternyata Injil ini memang memuat kabar sukacita bagi kita umat manusia yang lemah dan berdosa ini. Mengapa demikian? Karea ternyata Tuhan Yesus pun tidak luput dari stigma dosa yang dibuat oleh leluhurNya. Mari coba kita lihat. Nenek moyang Yesus ternyata tidak semuanya “orang lurus”, sebut saja Tamar dan Salomo. Tamar adalah seorang wanita yang dicap tidak baik karena melakukan perselingkuhan. Di lain pihak Salomo adalah anak hasil perselingkuhan antara Daud dengan Batsyeba istri Uria. Dengan mengerti hal ini kita sebenarnya disadarkan oleh Tuhan bahwa Yesus pun mau dilahirkan lewat orang-orang yang memiliki dosa dan kelemahan.
Inilah kabar baik dari Injil ini untuk kita sekalian. Tuhan tidak pernah memandang latar belakang kita. Yang Ia lihat bukan apa yang kita lakukan di masa lampau namun lebih pada apa yang kita lakukan pada saat sekarang ini. Tuhan tidak pernah memusingkan kedosaan kita. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah penyerahan diri kita kepada kerahimanNya. Dengan menyerahkan diri kita pada kerahiman Tuhan maka kita memberi kesempatan kepada Tuhan untuk mengubah diri kita sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi Tuhan tidak pusing dengan masa lampau kita. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah penyerahan diri kita kepada kerahimanNya. (Sulistya)